Kalbar Masuk Daerah Rawan Narkoba

oleh
Barang bukti berupa Sabu dan Ekstasi yang dihadirkan dalam keterangan pers di Halaman Kantor BNNP Kalbar

PONTIANAK – Kapolda Kalbar, Irjen (Pol) Didi Haryono mengatakan, dengan terungkapnya kasus transkasi sabu dan ekstasi dalam jumlah besa, maka memang benar Kalbar termasuk daerah rawan, baik sebagai daerah transit mau pun sasaran peredaran narkoba.

“Sehingga kami berharap, semua pihak harus peduli terhadap keamanan lingkungannya masing-masing dalam mengawasi dan mencegah agar daerahnya tidak dijadikan sasaran peredaran barang haram tersebut,” kata kepada wartawan, dalam keterangan pers di Halaman Kantor BNNP Provinsi Kalbar, Selasa (19/03/19).

Menurut dia, ada sekitar 1,2 juta lebih masyarakat yang bisa diselamatkan dengan digagalkannya transaksi kedua jenis barang haram tersebut, yakni dengan asumsi satu gram sabu dapat digunakan delapan orang, maka kalau sebanyak 107 kilogram bisa digunakan oleh sekitar 856 ribu jiwa, kemudian untuk ekstasi satu butir bisa digunakan tiga orang atau sekitar 344 ribu jiwa masyarakat yang dapat diselamatkan.

“Kalau kedua barang haram itu sempat beredar, maka bisa diasumsikan satu Kota Pontianak  akan hancur oleh narkotika tersebut. Sehingga mari terus kita gelorakan kepekaan kita agar bisa mencegah masuknya narkotika di Kalbar,” ujar Didi.

Seperti diketahui, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Barat berhasil menggagalkan penyelundupan 107 kilogram sabu dan 114.699 butir pil ekstasi pada 14 Maret 2019. Barang haram asal Malaysia dalam jumlah besar tersebut masuk ke wilayah Kalimantan Barat melalui jalur laut. (uun)