Konsultasi Regulasi TBS, DPRD Sanggau Temui Dirjen Perkebunan RI

oleh

SANGGAU – DPRD Kabupaten Sanggau pada Kamis (14/02/19) menemui Direktur Jendral (Dirjen) Perkebunan RI di Jakarta.

Kedatangan rombongan DPRD Sanggau yang dipimpin Wakil Ketua DPRD Sanggau, Hendrikus Bambang didampingi Ketua Komisi II DPRD Sanggau, Edi Emilianus K, Wakil Ketua Komisi II DPRD Sanggau, Yulius Tehau, Sekretaris Komisi II DPRD Sanggau, Fransiskus Kicun dan enam anggota Komisi II DPRD Sanggau lainnya itu bertujuan melakukan konsultasi/koordinasi tentang regulasi khusus pembelian TBS plasma PTPN 13 tentang penyesuaian penetapan  harga pembelian TBS Provinsi Kalbar di Direktorat Jenderal Perkebunan RI Jakarta.

“Iya. Kami datang bersama pimpinan dan anggota Komisi II menemui Dirjen Perkebunan di Jakarta, tapi kami tidak bertemu Dirjen, hanya bawahannya, Pak Dirjen lagi ke luar Kota,” kata Bambang membenarkan kunjungan kerja mereka kepada wartawan via selular, Kamis (14/02/19).

Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Sanggau Timotius Yance menyampaikan, banyak hal seputar harga TBS yang disampaikan kepada Dirjen Perkebunan RI melalui perwakilannya.

Hal itu dimaksudkan agar petani di Kabupaten Sanggau mendapatkan informasi tentang kepastian harga TBS yang ditetapkan pemerintah.

“Sebagai salah satu Kabupaten yang memiliki lahan sawit yang cukup luas di Kalbar, kami ingin memastikan bahwa petani mendapatkan kesejahteraan dari lahan sawit yang mereka miliki,” ujar Politisi Golkar Sanggau itu.

Dasar kunjungan DPRD Sanggau ke Dirjen Perkebunan RI di Jakarta dikatakan Yance yakni surat Dirjen Perkebunan RI nomor 1230/TI.030 tertanggal 5 November 2018 perihal permohonan regulasi khusus pembelian TBS PTPN XIII yang ditujukan kepada Gubernur Kalbar. Surat tersebut  terbit berdasarkan rapat antara pihak Dirjen Perkebunan RI dengan PTPN XIII tanggal 22 Oktober 2018.

“Intinya petani menolak surat tersebut karena Pergub meminta setiap perusahaan harus mengacu harga indek K sementara pihak PTPN malah membuat harga sendiri dengan alasan yang di buat – buat,” ungkap Yance.

“Seperti tahun tanam yang sudah tua dan alasan – alasan yang lain. Sementara buah plasma PTPN yang tua tersebut yang di jual di Ram masih di beli dgenga harga jauh dari PTPN sendiri,” tambahnya. (indra)