Karolin Dorong Percepatan Pembangunan Kawasan Industri

oleh

PONTIANAK – Calon Gubernur Kalimantan Barat, nomor urut dua dr. Karolin Margret Natasa siap mendorong percepatan pengembangan indsutri di dua kabupaten yang ada di Kalbar, sesuai dengan road map rencana pembangunan pemerintah pusat.

“Seperti yang kita ketahui, pada masa kepemimpinan pak Cornelis sebagai Gubernur Kalbar, Ketapang dan Mandor, Kabupaten Landak dijadikan sebagai salah satu daerah pengembangan industri. Untuk itu, ini akan menjadi PR bagi kami dan akan kami maksimalkan pembangunannya ke depan,” kata Karolin di Pontianak, Kamis (14/06/18).

Karolin memaparkan, dari informasi yang didapatnya di pemerintah pusat, nilai investasi untuk pengembangan dua kawasan industri tersebut sebanyak Rp1,22 triliun dan Rp4 triliun dan akan segera dikelola pada 2018 ini.

“Dengan adanya rencana pengembangan kawasan industri ini, tentu menjadi peluang besar bagi Kalbar untuk meningkatkan PAD nya, dan ini tentu akan berpengaruh pada pengurangan angka pengangguran di Kalbar. Makanya, ini harus kita dorong,” tuturnya.

Karolin menambahkan, pengembangan kawasan industri di Mandor dan Ketapang ini menjadi pengembangan kawasan industri yang fokus dibangun oleh pemerintahan Jokowi-JK di luar Pulau Jawa, termasuk di kawasan Indonesia timur. Sepanjang 2015-2019, Kementerian Perindustrian akan memfasilitasi pembangunan 14 kawasan industri.

“Percepatan program tersebut juga didorong oleh kerja sama Kemenperin dengan pada Gubernur dan Bupati/Walikota selaku pimpinan kepala daerah tempat kawasan industri tersebut berlokasi,” lanjutnya.

Karolin yakin, keberadaan kawasan industri seperti di luar Jawa turut mendekatkan pengembangan industri ke sumber bahan baku dan membuka lapangan kerja serta memacu pertumbuhan ekonomi daerah.

“Dibukanya kawasan industri menjadi wujud nyata bagaimana kita membangun dari pinggiran seperti semangat pemerintahan Presiden Jokowi dan Jusuf Kalla,” kata Karolin.

Diketahui, sebanyak 14 kawasan industri dikembangkan sesuai konsentrasi dan bahan baku yang dihasilkan daerah terkait. Yaitu Bintuni Papua Barat (migas dan pupuk), Buli Halmahera Timur, Maluku Utara (smelter ferronikel, stainless steel, dan downstream stainless steel, Bitung Sulawesi Utara (agro dan logistik), Palu Sulawesi Tengah (rotan, karet, kakao dan smelter).

Sedangkan di Morowali Sulawesi Tengah, Konawe Sulawesi Tenggara dan Bantaeng Sulawesi Selatan difokuskan pada industri smelter ferronikel, stainless steel, dan downstream stainless steel.

Sementara di Kalimantan, kawasan industri di Batulicin Kalsel (besi baja), Jorong Kalsel (bauksit), Ketapang Kalbar (alumina) dan Landak Kalbar (karet, CPO). Di Pulau Sumatera, dikembangkan kawasan industri Kuala Tanjung Sumut (aluminium, CPO), Sei Mangke Sumut (pengolahan CPO), dan Tanggamus Lampung (industri maritim dan logistik).

“Nantinya, kawasan industri juga telah menunjukkan kemampuan menarik aliran modal. Kedepan, kita akan jadikan kawasan industri ini agar bisa memegang peranan strategis dalam pembangunan industri nasional dan Kalbar khususnya, karena memberikan jaminan dan kepastian lokasi bagi investasi khususnya di sektor industri,” punhkas Karolin. (*)