Ruang Kelas Rusak Parah, Siswa Belajar di Eks Rumah Guru

oleh

SANGGAU – Wajah pendidikan di perbatasan RI – Malaysia, tepatnya di Kabupaten Sanggau memprihatinkan. Tidak kurang dari 20 persen bangunan SD di Kabupaten itu rusak ringan hingga rusak berat. Sebagian besar bangunan SD yang rusak itu berada di daerah perbatasan.

Salah satu gedung SD di Kabupaten Sanggau yang mengalami kerusakan yaitu SD Negeri 15 Segumun di Kecamatan Sekayam. Selain kerusakan pada sarana prasarana belajar, ruang kelas di SD yang berjarak sekitar empat kilometer dari garis batas negara ini juga masih sangat kurang.

Rusaknya bangunan SD Negeri 15 Segumun memaksa Kepala Sekolahnya mengalihkan seluruh proses belajar dan mengajar di bekas bangunan rumah dinas guru disebelah gedung sekolah.

“Yang jelas ruang belajar (rusak dan kurang), kemudian untuk meubeler juga kondisinya sudah memprihatinkan, kemudian lantai, semennya itu sudah banyak yang hancur, sudah hampir rata dengan tanah, terus plafon juga tidak ada,” kata Arif Kepala Sekolah SD Negeri 15 Segumun kepada wartawan, Senin (23/04/18).

Arif menambahkan, kondisi bangunan bekas rumah dinas guru yang menjadi ruang kelas sementara ini juga memprihatinkan. Bangunannya terbuat dari kayu yang sebagian sudah lapuk termakan usia.

“Kami khawatir juga dengan kondisi yang seperti itu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan diwaktu jam pelajaran berlangsung. Harapan saya pihak terkait segera memperhatikan ini,” tambahnya.

Kondisi ruang belajar yang tidak nyaman itu membuat sebagian murid tidak betah berada kelas. Matrovia, siswi kelas IV SD Negeri Segumun ini khawatir kelasnya roboh saat sedang belajar.
“Susah, panas (dikelas). Takut (roboh) kalau hari hujan,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sanggau Sudarsono menegaskan perbaikan gedung SD Negeri 15 Segumun akan difokuskan di tahun anggaran 2019.

“Kondisi fisik ruang kelasnya memang rusak. Tapi ini rusak ringan, bukan rusak berat. Karena program kita belum menyentuh ke situ tahun ini, maka tahun 2019 baru kita programkan untuk merehab ruang kelasnya,” terangnya.

Selain merehab ruang kelas, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan juga bakal menambah ruang baru untuk mengatasi kekurangan lokal di SD tersebut.

“Kita sudah cek, di SD Negeri 15 Segumon ruang kelasnya kurang. Rombelnya 10 sementara ruang kelasnya 8. Jadi masih kekurangan dua lokal, nah ini juga (tahun) kedepan baru bisa kita programkan,” pungkasnya.

Ditanya tentang keselamatan dalam proses belajar mengajar di sekolah tersebut, Sudarsono menyampaikan, secara teknis bakal meminta bantuan konsultan untuk memeriksanya.

“Nanti kita minta konsultan yang cek bangunannya, apakah memang tidak kuat atau bagaimana. Tapi nanti, sepanjang konsultan menyimpulkan masih kuat, kita anggarkan di 2019. Tetapi kalau terjadi suatu hal, umpamanya ada kejadian alam sampai roboh akan kita sikapi segera,” tuturnya. (indra)