Jelang Ramadhan dan Idul Fitri, Stok Beras di Sanggau Aman

oleh
John Hendri, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perikanan Kabupaten Sanggau. Foto : Indra

SANGGAU – Kepala Kantor Seksi Logistik Kabupaten Sanggau, Suriansyah memastikan ketersediaan stok beras menjelang puasa ramadhan dan idul fitri 1439 hijriah dipastikan aman.

“Stok kita cukup untuk stabilitas harga dan ketersediaan pangan sampai menjelang ramadhan dan idul fitri,” kata Dia saat dihubungi melalui WhatApps, Senin (16/04/18).

Dia menjelaskan, stok yang tersedia di gudang berjumlah 1.000 ton beras, 15 ton gula dan 5.000 liter minyak.

“Jika tidak mencukupi, akan ditambah lagi stok nya. Kami ada sistem manajemen stok. Jadi, sebelum stok habis akan diisi lagi,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perikanan Kabupaten Sanggau John Hendri, memastikan ketersediaan pangan, khususnya beras untuk kebutuhan masyarakat selama Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini di Kabupaten Sanggau cukup.

“Kita punya stok beras di gudang sekitar 100 ton. Jumlah ini belum termasuk ketersediaan beras yang ada ditingkat petani. Apalagi sekarang baru saja panen, jadi stok beras untuk Ramadhan dan Idul Fitri cukup,” kata John Hendri kepada awak media, Senin (16/04/18).

Terkait harga, Pemkab Sanggau bakal melakukan pemantauan intensif. Jika terjadi lonjakan harga yang signifikan, operasi pasar bakal digelar untuk mengendalikan harga beras dipasaran.

John Hendri menyampaikan, sejauh ini harga beras dipasaran memang berfluktuasi. Hal ini karena adanya persaingan pasar. Meski begitu, harga beras di pasaran Kabupaten Sanggau masih terjangkau.

“Kalau nanti ada lonjakan harga, kita kendalikan dengan operasi pasar. Kebetulan kita bekerjasama dengan Toko Tani Indonesia, jadi kalau ada lonjakan harga kita lakukan operasi pasar beras murah dengan harga 9 ribu/kg,” pungkasnya.

Disinggung tentang kabar masuknya beras dari Malaysia lewat jalur perbatasan, John Hendri belum bisa memastikan kabar tersebut. Jika benar ada, menurutnya, jumlahnya tentu terbatas.

“Perbatasan kita sudah sangat ketat. Begitu juga dengan Malaysia, mereka sangat selektif mengeluarkan produk pangannya. Apalagi untuk jenis beras, karena disana beras itu disubsidi. Petani kita sejauh ini terlindungilah,” pungkasnya. (indra)