Punya Emas dan Uang Triliunan di Negara Ini Tak Ada Harganya

oleh
Warga Zimbabwe membawa uang dengan jumlah banyak, namun tak berharga di negaranya. Foto : shutterstock

JAKARTA – Jika membayangkan bahwa orang-orang yang bergelimang uang dan emas akan memiliki hidup yang menyenangkan dan serba terjamin, realitanya tak selalu demikian.

Setidaknya di dua negara ini, uang tak ada harganya, para miliarder tak ubahnya rakyat miskin yang hidup kelaparan karena tak bisa membeli makanan.

Negara pertama adalah Mali, negara dengan sumber emas terbanyak di dunia. Sekitar 900 ton cadangan emas ada di sini dan negara ini adalah produsen emas terbesar ketiga di Afrika.

Melimpahnya emas, membuat seluruh masyarakat mampu berburu emas sendiri. Pemerintah Mali bahkan mengizinkan setiap warga negara dapat memproduksi emas secara mandiri. Tak heran, hampir semua masyarakatnya memiliki persediaan emas yang melimpah.

Sayangnya, negara ini kebanyakan berupa gurun, sedikit sekali lahan subur di sana. Maka, meski memiliki banyak emas penduduk Mali kesukaran mendapatkan bahan makanan.

Belum lagi ketika eksploitasi dari luar terjadi, masyarakat setempat di gaji minimum untuk mengeruk emas di tanah mereka sendiri.

Negara kedua yang bernasib serupa adalah Zimbabwe. Negara ini dulunya merupakan daerah pertanian terkaya di Afrika yang dikenal sebagai lumbung roti. Namun, sejak keruntuhan ekonomi dan inflasi parah, 175 triliun dollar Zimbabwe hanya bisa ditukar dengan 5 dollar AS atau Rp 70 ribu.

Uang menjadi tak ada artinya, meski setiap orang adalah miliarder, tetapi mereka tidak mampu membeli makanan. 100 triliun dolar Zimbabwe bahkan sama sekali tidak cukup untuk membeli tiket bus.

Akhirnya pada tahun 2009 pemerintah memutuskan untuk meninggalkan mata uang nasionalnya dan menggunakan sembilan mata uang. Termasuk dolar AS, yen Jepang, dan yuan Tiongkok, dan juga menjadi satu-satunya negara di dunia dengan sembilan mata uang legal secara paralel. (**)