WNI Asal Sumut Terlantar di Malaysia Ucapkan Terima Kasih untuk KJRI Kuching dan Warga Bintulu

oleh
Milda dan anaknya saat berada di KJRI Kuching, Malaysia. Foto : Oca

PONTIANAK – Wajah lelah dari Diana (9), Akbar (6), Murni (5), Linda (4) dan Puteri (2) serta ibunya, Milda Situmorang (45) terlihat jelas saat ditemui di Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (02/12/19) malam.

Betapa tidak, keenam warga negara Indonesia (WNI) ini telah menempuh perjalanan darat sekitar delapan jam dari Kuching, Malaysia untuk tiba di Pontianak. Bahkan, mereka sudah melewati proses panjang untuk bisa menginjakkan kaki di tanah air.

Wajah lelah itu seketika berubah menjadi riang gembira. Saat mereka teringat bahwa dalam hitungan jam mereka tiba di kampung halamannya di Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara (Sumut).

“Lumayan senang (bisa) balik ke kampung halaman di Tebing Tinggi,” ucap Milda sambil tersenyum.

Milda dan lima anaknya ini merupakan WNI yang sempat telantar di hutan kawasan Batu 9, Bintulu, Sarawak, Malaysia. Kondisi ini terjadi pasca meninggalnya Irwan, suami dari Milda.

Berkat bantuan Francis Ngu Hown Hua, perwakilan komunitas Exrameal Bintulu dan pegiat Medsos Bintulu News serta Forum Komunikasi Masyarakat Muslim Indonesia (Forkommi), keenam WNI ini bisa dievakuasi Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kuching dan kemudian dipulangkan ke kampung halaman.

Milda bercerita, dirinya merupakan warga asli Kota Tebing Tinggi. Beberapa tahun silam, tepat usianya 29 tahun, dia ditawarkan oleh seorang agen untuk bekerja yang menjanjikan di Malaysia. Kala itu Milda dan tiga WNI lainnya diterbangkan melalui Jakarta.

Setibanya di Kuching, Sarawak, mereka diinapkan semalam. Kemudian keesokan harinya dilanjutkan perjalanan ke Miri. Di sana, Milda berpisah dengan beberapa temannya. Milda dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga. Milda mengaku tak menyangka dapat perlakuan yang menyedihkan dari majikan maupun agennya di Miri.

“Di sana, paspor saya ditahan agen. Majikan pun tidak ada kasih gaji. Saya dipukul pakai ikat pinggang kalau kerja dianggap tidak bersih. Saya takut, saya (kemudian) lari,” kenang Milda.

Bersyukur dalam pelariannya, Milda bertemu dengan orang-orang Indonesia yang juga menjadi pahlawan devisa di Negeri Jiran ini. Kemudian bertemulah Milda dengan Irwan, warga Sulawesi Tengah yang juga bekerja di Miri.

“Seminggu kemudian, saya kawin (nikah, red) dengan dia. Kami tinggal di pondok di hutan Bintulu. Sampailah punya anak, ini dia. Terus lahir ini. Kemudian ini. Sampai ada lima anak. Melahirkan dibantu bidan kampung,” jelas Milda sambil menunjukkan anak-anaknya.

Selama tinggal di Bintulu, Irwan sekeluarga sempat berpindah-pindah lokasi. Tapi tetap saja menempati pondok di hutan dan kebun-kebun milik warga setempat. Di sana, Irwan berkebun. Sementara Milda yang membantu menjual hasil kebun ke pasar. Dengan waktu tempuh berjalan kaki memakan waktu satu jam lebih.

Sedangkan kelima anak mereka sehari-harinya bermain di kawasan kebun itu. Jika pemilik kebun menyuplai makanan, kata Milda  mereka sekeluarga dapat bertahan di sana.

“Tapi kalau tidak ada mengantar makanan, kami berlari pindah tempat,” jelasnya.

Selama di Malaysia, Milda tak pernah menghubungi keluarganya di Tebing Tinggi. Begitu juga keluarganya di kampung. Karena keterbatasan akses. Sebelum kepergian Irwan untuk selamanya, kata Milda, mereka satu keluarga sempat ingin pulang kampung halaman suaminya di Sulawesi Tengah. Itupun jika uang terkumpul.

“Tapi uang belum terkumpul, suami saya sakit-sakitan dan meninggal dunia. Kami jadi begini. Nanti di kampung halaman saya mau bekerja apa saja. Asal halal, berladang pun jadilah dulu, atau berdagang sayuran,” ucapnya.

Tak begitu banyak keterangan yang didapat dari Milda. Karena dia sedih ketika mengenang suaminya yang kini sudah dimakamkan di Sarawak. Milda dan kelima anaknya pun kemudian dibawa ke ruangan penampungan BP3TKI untuk istirahat.

Setelah diinapkan satu malam, Milda dan lima anaknya kemudian diterbangkan ke Sumut melalui Bandara Internasional Supadio Pontianak, pada Selasa (03/12/19), pernerbangan pukul 14.55 Wib.

Dalam penerbangan ini, mereka didampingi Kepala Bagian Humas Biro Humas dan Keprotokolan Setdaprov Sumut Muhammad Ikhsan, Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sumut Sabrina bersama Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Sumut Nurlela.

“Tadi kami sudah antar mereka ke bandara. Tugas kami selesai untuk misi ini. Karena dari awal kami sudah mendampingi Bu Milda dan anak-anaknya. Dari evakuasi di Bintulu bawa ke KJRI Kuching sampai kami antar ke Pontianak. Selesai sudah. Semoga Bu Milda dan anak-anaknya selalu dalam kondisi baik,” ucap Hendri, salah satu Staf KJRI yang mengantar rombongan kepada sejumlah wartawan di Pontianak.

Pria yang disapa Een ini mengatakan, Milda sempat mengucapkan terima kasih kepada KJRI Kuching dan masyarakat Bintulu serta Forkommi atas bantuannya selama ini. Dikatakan Een, memang banyak hal yang membuat Milda terkesan, mulai dari proses evakuasi, perlindungan hingga pemulangan. Karena Milda benar-benar mendapat perlakuan baik dan layak selama dalam perlindungan KJRI Kuching.

“Bu Milda tadi sempat bilang terima kasih kepada KJRI dan warga di Bintulu. Dia juga berharap ada yang bisa mengasuh empat anaknya. Agar masa depan anaknya cerah. Mungkin bisa dimasukkan ke pesantren seperti yang dibicarakan saat di Bintulu. Kalau anak bungsu, dia akan merawatnya,” kata Een.

Begitu juga dengan Mardian Tasman, Staf KJRI Kuching lainnya. Ia mengatakan, sepanjang perjalanan dari KJRI Kuching ke Pontianak, Milda selalu bercerita dan berharap agar anak-anaknya dapat diberi pengasuhan.

“Bu Milda ingin anaknya ada yang jadi polisi, dokter dan guru. Begitu dia bilang ke saya. Tak lupa dia ucapkan terima kasih ke KJRI dan warga di Bintulu,” kata Mardian.

Untuk diketahui, Konsul Jenderal RI di Kuching, Yonny Tri Prayitno yang melepas keberangkatan Milda dan lima anaknya dari KJRI Kuching. Yonny mengatakan, evakuasi Milda ini berawal adanya warga Bintulu yang melihatnya selalu keluar-masuk hutan. Sambil membawa sayur untuk dijual ke masyarakat.

Karena penasaran, warga pun mengikutinya hingga masuk ke hutan. Warga tersebut adalah Francis Ngu Hown Hua, pegiat Medsos Bintulu News. Francis bersama teman komunitas lainnya mendapati Milda bersama lima anaknya, serta suaminya yang sedang sakit dan dalam kondisi yang memprihatinkan.

Karena prihatin, komunitas kemanusiaan ini kemudian terus menggalang bantuan untuk diserahkan ke Irwan sekeluarga. Bahkan biaya rumah sakit pun mereka menanggungnya. Namun takdir berkata lain, pada 16 Oktober lalu Irwan meninggal dunia karena terserang virus kencing tikus.

“Warga kemudian melaporkan hal itu ke KJRI Kuching. Selanjutnya kami kirim tim untuk melakukan evakuasi Bu Milda dan anak-anaknya ini,” kata Yonny.

Setelah berhasil dievakuasi, pihak Imigrasi KJRI Kuching kemudian membuatkan dokumen perjalanan berupa Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) yang dapat digunakan untuk proses pemulangan ke Sumut.

Kabag Humas Biro Humas dan Keprotokolan Setdaprov Sumut M Ikhsan mengatakan, yang menjadi kendala pihaknya nanti adalah proses pencarian keluarga Milda.

“Karena Bu Milda sendiri tidak dapat (ingat) menceritakan tentang (keberadaan) keluarganya. Namun kita tetap berupaya mencari. Karena informasinya Bu Milda adalah orang Kota Tebing Tinggi,” jelasnya.

Pemerintah Kota Tebing Tinggi, kata Ikhsan sudah diminta bantuan untul melacak keberadaan keluarga Milda. Namun, jika nantinya tidak membuahkan hasil, Ikhsan memastikan Milda dan anak-anaknya mendapat perlindungan dari Pemprov Sumut.

“Misalnya nanti tidak dapat keberadaan keluarga Bu Milda, maka akan kita tempatkan sementara di Shelter Dinsos Pemprov Sumut,” tutup Ikhsan. (Oca)