Terima Aduan Warga, Harry Adryanto Tinjau Pemakaman Muslim di BLKI

oleh
Staf ahli Ketua DPD RI saat sidak di pemakaman muslim, Pontianak. Foto : Istimewa

PONTIANAK – Pemakaman adalah tempat peristirahatan terakhir. Keberadaan makam di Kota Pontianak tersebar, bahkan disetiap Kecamatan. Namun keberadaan makam di Kota Pontianak kadang jauh dari kesan asri. Terkesan tidak terawat dan kelihatan angker. Jauh dari kesan tertata.

Bersama rombongannya, Harry Adryanto yang merupakan staff ahli Ketua DPD RI melakukan di Pemakaman Muslim, Jalan Abdurrahman Saleh (BLKI), Pontianak. Senin (04/02/19) beberapa waktu lalu.

Secara umum, sebenarnya warga Kota Pontianak khususnya kaum Muslim mulai cemas, selain lahan pemakaman yang terbatas, ditambah jumlah penghuni makam semakin hari semakin bertambah, mengakibatkan kondisi makam semakin semrawut, jauh dari perawatan. Tampak terlihat rumput ilalang yang semakin meninggi, Jalan akses menuju makam yang becek, menambah pemandangan kurang indah pemakaman di Kota Pontianak.

Menurut Harry Adryanto, dirinya mendapat laporan dari warga soal kuburan di kawasan BLKI, Kelurahan Bangka Belitung, Pontianak Tenggara.

Mereka mengeluhkan akses jalan menuju kuburan itu becek parah jika hujan mengguyur lokasi makam ini, sehingga membuat para pelayat maupun peziarah merasa terkendala dengan kondisi tersebut.

“Tidak ada yang mau peduli dengan kuburan, baik pemerintah maupun dewan pun cuek. Mungkin gara-gara dikuburan ini tidak ada suara pemilihnya,” kata Agus, warga Bangka Belitung sambil tersenyum namun dengan nada kesal.

Lurah Bangka Belitung Laut, Juharta saat menemani ke lokasi makam yang tak jauh dari rumah Dinas Ketua DPRD Kota Pontianak dan rumah Dinas Wali Kota Pontianak ini mengakui bahwa, jika hujan lokasi jalan di kawasan kuburan tersebut becek parah.

“Tapi sudah kami ajukan atau sudah kami usulkan, mudah-mudahan ada yang mengawal usulan kami,” katanya.

Dari pengamatan dilapangan rata-rata makam muslim tidak terawat, entah berapa jumlahnya, mungkin ratusan atau mungkin ribuan lokasi, termasuk di gang atau pemukiman padat.

Ironinya, hampir semua makam tersebut berasal dari inisiatif warga secara bergotong royong membeli tanah wakaf. Walau tak sedikit orang baik atau tokoh menyumbangkan tanahnya untuk di wakafkan untuk kepentingan umum.

Semestinya Pemkot sudah memikirkan lokasi kuburan baru yang luas dan strategis. Yang nantinya di kelola secara baik, rapi, indah dan nyaman seperti taman. Contoh pemakaman di daerah Jakarta atau Taman Makam Pahlawan di Sungai Raya, Kubu Raya.

Perangkat dinas terkait termasuk kecamatan dan kelurahan sebaiknya harus diikut sertakan untuk berkomunikasi dengan warga  yang terkena musibah kematian termasuk ikut mengelola dan merawat tanah kuburan, sehingga mereka sebagai pelayan masyarakat lebih bermanfaat.

Dan yang lebih penting, para petugas makam mendapatkan gaji. Selain itu juga untuk nafkah keluarga dan masa depan anak-anak nya, sehingga mereka memiliki tanggungjawab untuk merawat kawasan kuburan menjadi sebuah taman yang rapi dan indah tidak seperti umumnya terlihat saat ini. (Arief)