Sempat Dipagar Petani, Kini Jalan Menuju PT MPE Kembali Dibuka

oleh

SEKADAU – Pemagaran di areal kebun PT MPE dan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) milik PT. Permata Hijau Sarana (PHS) di desa Seraras pada 24 Oktober 2018 lalu, yang dilakukan petani dari enam KUD binaan
PT Multi Prima Entakai (MPE), seharusnya tidak perlu terjadi.

Kendati pemagaran itu dipicu dari penetapan quota TBS yang dilakukan PKS PT. PHS, berdasarkan luas area kebun plasma di enam KUD.

“Penetapan kuota ini seharusnya dipatuhi oleh semua pihak termasuk petani, karena sudah disepakati dalam perjanjian jual beli buah dengan PT. PHS,” kata General Menejer PT. PHS, Yosafat, kepada sejumlah media Kamis (01/11/18) di Sekadau.

Sayangnya, lanjut Yosafat, yang terjadi selama ini adalah, pengiriman TBS yang dilakukan petani selalu melebihi quota, sehingga kelebihan dari quato akan dibeli dengan harga pasar. Hal ini sesuai dengan kesepakatan yang tertuang dalam surat perjanjian.

“Kelebihan quota inilah, menjadi pemicu pemagaran oleh petani,” tuturnya.

Dan menyikapi tuntutan dari petani dan KUD, management PT PHS akan memberi solusi diantaranya, enam KUD tersebut mengirim TBS dengan volume  sesuai quota yang telah ditetapkan. Jika kedepan terjadi kelebihan volume ketika dikoreksi, maka dapat dilakukan pendataan, atas kemampuan riil produksi di kebun plasma pada KUD masing-masing dan dituangkan dalam addendum perjanjian baru.

Kemudian, apabila kedua belah tidak ada kesepakatan terhadap kemitraan dan kerjasama ini, maka semua perjanjian akan diakhiri.

“Dengan demikian KUD bisa menjual TBS kemana saja, sesuai dengan keinginan mereka,” katanya.

Sehingga petani/ KUD bebas memikirkan replanting masing-masing kebunnya. Bahkan, petani bisa saja mengirim TBS ke PKS milik PT. MPE, karena KUD tersebut adalah mitra PT. MPE, dengan cara mengikuti kesepakatan dan perjanjian kerjasama yang telah ditanda tangani kedua belah pihak.

“Saya berharap keberlangsungan operasional pabrik tidak terganggu lagi, karena permasalahan saat ini sudah menjadi permasalahan nasional. Artinya bukan hanya di Kalimantan Barat saja. Anjloknya harga TBS juga menjadi pemicu persoalan ini,” jelasnya.

Adapun penutupan pintu pabrik PT. PHS terjadi pada 25 Oktober 2018, tepat pukul 17.26  WIB. Dan 31 Oktober 2018 siang, penutupan jalan kebun PT MPE telah dibuka kembali oleh pengurus KUD dan pengurus adat. (Sutarjo)