Perusahaan Harus Taati Pergub Saat Beli TBS

oleh

SEKADAU – Sejumlah petani Sekadau mengeluhkan anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) secara nasional. Mirisnya lagi, masih ada beberapa perusahaan yang menbeli harga TBS dibawah harga yang ditetapkan oleh pemerintah melalui Peraturan Gubernur (Pergub) nomor 86 tahun 2015. Yang mana dalam Pergub tersebut sudah diatur harga dan siapa yang harus bermitra dengan perusahaan dan yang boleh menjual TBS ke perusahaan.

“Dalam Bab V pasal 11 ayat 1 yang mengatur tentang kemitraan bahwa semua pabrik kelapa sawit yang ada di kalimantan barat harus membeli TBS dari pekebun melalui¬† kemitraan atau kelembagaan pekebun kelapa sawit sesuai dengan harga yang ditetapkan oleh tim,” kata Samuel, Ketua Asiosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) kabupaten Sekadau kepada para wartawan Jumat (11/10/18) di Sekadau.

Tidak hanya sampai disitu kata dia, bahkan grading di pabrik juga sudah di atur dalam Pergub tersebut seperti yang dituangkan dalam pasal 2 ayat 6 dengan ketentuan sebagai berikut bahwa perusahaan hanya boleh melakukan grading TBS atau yang kerap disebut seleksi kwalitas TBS.

“Sesuai ketentuan, untuk buah mentah gradingnya 0 persen,buah matang juga min 95 persen sedangkan untuk TBS kelewat matang hanya boleh di grading maksimal 5 persen. Untuk tangkai panjang 0 persen sedangkan untuk TBS abnormal¬† 5 persen, sedangkan untuk tangkai panjang 0 persen, untuk TBS jenis Dura maksimal gradingnya hanya 2 persen,” papar Samuel.

Seandainya kata Samuel, apabila semua perusahaan mau mengikuti ketentuan Pergub tersebut, maka tidak menutup kemungkinan petani sawit di Kalimantan Barat hidupnya akan sejahtera. Namun, pada praktiknya lanjut Samuel, di kabupaten tidak ada perusahaan yang mengikuti aturan tersebut.

Oleh karenanya, Samuel berharap kedepan petani sawit harus tau, aturan yang berkaitan dengan petani kepala sawit. Tujuannya, agar petani tidak lagi dibohongi oleh perusahaan seperti selama ini.

Mirisnya lagi sambung dia, ketika menbeli TBS saja, mereka sudah tidak mengikuti harga yang ditetapkan oleh Tim indeks.

Yang mana kata Samuel, setiap bulan harga TBS sudah ditentukan. Bahkan sekarang ada perusahaan membeli TBS dibawah harga standar. Aneh, atas dasar perusahaan mematok harga TBS sehingga muncul harga sekarang ada yang Rp450 perkilogram, dan ada juga yang mematok harga Rp600 perkilogram.

Padahal sesuai harga yang ditentukan tim, bahwa untuk Tahun tanam tiga tahun saja harga TBSnya sudah diatas seribu rupiah perkilogram.

Sedangkan untuk tahun tanam diatas 10 tahun harga TBS perkilonya
Rp1.400 per kilogram.

Anehnya, perusahaan bahkan dengan berani menunjuk mitranya untuk membeli TBS petani diluar mitra mereka.

“Banyak perusahaan yang bekerjasama dengan CV pembeli TBS, yang mana CV tersebut tidak ada hubungan dengan petani. Yakni pembeli TBS dari luar kabupaten Sekadau. Untuk itu kedepan saya mibta daerah melalui instansi terkait melakukan kontrol terhadap kondisi ini,” pinta Samuel. (sutarjo)