Terlibat Kasus Korupsi, Status Dewa Kok! Masih Saksi

oleh
Sidang kasus korupsi alat laboratorium metrologi digelar di Pengadilan Tipikor Pontianak. Foto : Dody

PONTIANAK – Sidang kasus korupsi pengadaan alat laboratorium metrologi fisika/geologi/geodesi Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kota Singkawang tahun 2013 dengan  agenda pembacaan dakwaan terhadap  tiga terdakwa yakni Uray Andrizar, S.Sos, MT sebagai Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), Agung Arif Gunawan sebagai Sekretaris Panitia Pengadaan dan  Emy Erwanda, SE sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Pontianak, Rabu (08/08/18).

Sidang itu, dipimpin oleh Hakim Ketua , Maryono, SH, M.Hum dan Hakim Anggota, Edward Samosir, SH, MH serta Soeherman, SH, MM.

Dalam surat dakwaan sebanyak 54 lembar, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut terdakwa dengan  ancaman hukuman pidana maksimal hukuman mati  dan minimal penjara 4 tahun  serta denda sebesar Rp 200 juta  karena telah melanggar ketentuan pasal 2 ayat 1, dan pasal 3 dengan hukuman pidana penjara minimal 1 tahun dan maksimal 15 tahun dengan denda sebesar Rp 50 Juta serta pasal 11 Undang-Undang nomor 20 tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dengan ancaman hukuman minimal 1 tahun dan maksimal 5 tahun penjara dan denda sebesar Rp 50 Juta.

Muhammad Radyan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuturkan, rencananya sidang lanjutan akan digelar pada Selasa (15/08/18) mendatang dengan agenda pemeriksaan saksi.

“Dalam sidang lanjutan nantinya, karena ini tiga terdakwa dengan satu saksi, maka akan disidangkan dengan tiga perkara namun dilaksanakan secara berbarengan,” ucapnya.

Ia menjelaskan, dakwaan yang disampaikan, berdasarkan keterangan dan pemeriksaan dari para saksi, termasuk saksi ahli beserta barang bukti.

“Tiga perkara yang disidangkan saat ini merupakan sidang lanjutan dari tiga perkara korupsi sebelumnya, yakni terdakwa Andi Syarif, Abdul Rojak dan Ilyas,” ucapnya.

Sementara itu, Muhammad Guru alias Dewa yang disebut dalam dakwaan, sebagai Direktur CV. Cari Sesuap Nasi, perusahaan yang memenangkan lelang pengadaan alat laboratorium metrologi sampai saat ini statusnya masih diperiksa sebagai saksi.

“Dewa itu adalah orang yang dimintai tolong oleh Uray Andrizar untuk membuat Harga Perkiraan Sendiri (HPS), dan sayangnya Dewa ini juga ikut dalam proses pelelangan, dan hal itu sebenarnya tidak boleh dilakukan,” ucapnya.

Ditambahkan Radyan, seharusnya secara tupoksi, yang membuat HPS itu adalah Muhammad Ilyas sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan bukannya Uray Andrizar, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK).

“Selain ketiga terdakwa tadi, Pengadilan Tipikor sudah memvonis ketiga terdakwa lainnya, yakni Andi Syarif, Abdul Rojak dan Muhammad Ilyas dengan hukuman penjara masing-masing 1 tahun dan denda sebesar Rp 50 Juta,” ucapnya.

Kasus korupsi pengadaan alat laboratorium metrologi tahun 2013 senilai Rp 1,68 Miliar terungkap pada tahun 2017 lalu, dan dari hasil penyidikan Kejaksaan Negeri Kota Singkawang ditemukan kerugian negara sebesar Rp 650 Juta. (Dody)