PPDB Sistim Zonasi Hanya Patokan

oleh

SEKADAU – Penerimaan Peserta  Didik Baru (PPDB) di sejumlah sekolah sepertinya sudah di atur melalui Permendikbud nomor 14 tahun 2018. Peraturan Mentri tersebut mengatur soal zonasi bagi sekolah dalam melakukan PPDB. Namun sistim zona ini tidak terlalu di persoalkan karna, sistim zona ini hanya sebagai acuan saja.

Tujuannya, supaya sekolah memiliki acuan dalam merekrut anak didik baru.

“Artinya, sekolah yang bersangkutan ketika melakukan penerimaan siswa baru mengutamakan anak-anak sekitar dulu. Tapi, bukan berarti yang jauh itu di tolak, tetap di terima apabila yang dekat-dekat sudah terakomodir semua. Baru ambil yang jauh,” kata Empani, S. Pd, Sekretaris Dinas Pendidikan Sekadau, Senin (02/07/18) di ruang kerjanya .

Sistim zona kata dia lagi, hanya sebagai patokan saja. Namun, bukan berarti oarng kampung tidak boleh sekokah di kota. Tapi, sekolah di kota boleh menerima peserta didik asalkan anak-anak sekitar sudah tertampung semua.

Sebagai contoh kata dia, anak-anak dari Simpang 4 mendaftarkan diri untuk sekokah di SMP 01. Padahal di Simpang 4 ada juga SMP Negri 08.

“Ketika mereka harus memilih untuk mendaftarkan diri ke SMP Negri 01 Sekadau, silahkan saja, hanya saja SMP Negri 01 mengutamakan yang dekat dulu,” tuturnya.

Pertimbangannya jarak tempuh anak untuk ke sekolah, itu yang utama.

“Sistim zona hanya sebagai patokan saja. Artinya, sistim ini hanya sebagai acuan dan ketika orang memilih untuk sekolah dimana saja, itu adalah hak orang. Sistim zona jangan disalah artikan,” kata Empani.

Sekolah negeri lanjut dia, sekarang sudah mulai membuka pendatran, sesuai surat edaran dinas pendidikan kepada semua sekokah, PPDB resmi dibuka mulai tanggal 2 Juli sampai dengan tanggal 7 juli 2018. Khusus untuk Sekokah Dasar dan SMP.

Untuk PPDB tidak ada seleksi nilai maupun tes. Baik itu PPDB SD maupun SMP. Cuma untuk SD ada variasi seleksi umur. Dari usia 5,6 kemudian usia 6 tahun. Khusus untuk usia 5,6 tahun kalau mau masuk SD, anak tersebut harus mengantongi rekomendasi dari ahli pisikologi. Tujuanya tentu agar mental anak tersebut siap untuk menerima pelajaran.

“Artinya seberapa jauh kematangan anak tersebut menerima pelajaran serta kesestbilan emosional anak tidak terlalu di paksakan. Karena, kita tidak ingin anak tersebut stres dan tidak mampu menyerap pelajaran yang diberikan oleh guru,” kata Empani. (sutarjo)