Saksikan Festival Bakcang dan Mandi Peh Cun, Harry-Yandi Akan Lestarikan Budaya Dalam Pariwisata Air Bertaraf Internasional

oleh
Paslon Harry-Yandi saat menyaksikan festival Bakcang dan Mandi Peh Cun di sungai Kapuas. Foto : Arif

PONTIANAK – Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Pontianak nomor 1, Harry-Yandi menyaksikan langsung festival Bakcang dan tradisi mandi Peh Cun di sungai Kapuas, Pontianak, Senin (18/06/18).

Dengan menggunakan Kapal Motor (KM) paslon Harry-Yandi menyusuri sungai Kapuas bersama dengan Gege Meimei (Koko Meme) Kalimantan Barat dan sejumlah warga tionghoa yang turut menyaksikan festival Bakcang dan mandi Peh Cun di sungai Kapuas.

Paslon Harry-Yandi tampak senang dan begitu antusias disaat menyaksikan tradisi yang bertepatan dengan tanggal 5 bulan 5 dalam penanggalan Imlek, yang merupakan tradisi makan besar bersama keluarga, disertai dengan mandi tengah hari.

Cawako Harry menuturkan, festival Bakcang dan tradisi mandi Peh Cun yang merupakan agenda rutin tahunan, akan dijadikan bagian dari program kerjanya, yakni pembangunan pariwisata air bertaraf internasional, apabila nantinya terpilih menjadi Wali Kota Pontianak.

“Ini adalah sebuah agenda besar Kami, selain daripada agenda-agenda lain, yakni menjadikan tradisi ini sebagai bagian dari program pariwisata air bertaraf internasional,” ucapnya.

Selain itu, Ia menuturkan, akan membangun miniatur budaya semua suku bangsa yang ada diseluruh Indonesia.

“Jadi seperti taman mini Indonesia dipinggir sungai Kapuas, Kami akan membangun miniatur sebagai perwakilan budaya di Indonesia. Kami juga akan membangun gedung, yang didalamnya akan ada  ciri khas dari seluruh Kabupaten di Kalbar, seperti kuliner dan souvenir,” ucapnya.

Ia melanjutkan, ketika ingin menikmati makanan ciri khas dari Kabupaten diseluruh Kalbar, warga dapat mencarinya di gedung ini.

Sedangkan, Cawawako Yandi yang berketurunan tionghoa, menceritakan kisah kenapa sampai adanya festival Bakcang dan tradisi mandi Peh Cun, yang merupakan warisan dari leluhurnya ini.

Ia menuturkan, bahwa saat itu Jenderal Qu Yuan yang hidup pada 340-378 SM memberikan contoh kepada masyarakat, tentang bagaimana kesetian kepada negara.

“Dikisahkan bahwa, ketika beliau sebagai penasehat kerajaan, beliau kecewa karena tidak bisa memberikan perubahan dan kontribusi terbaik bagi Negaranya, sehingga kondisi Negaranya pun kacau,” ucapnya.

Dilanjutkannya, karena rasa kesal dan kecewa itu, akhirnya Jenderal Qu Yuan nekat mengakhiri hidupnya, dengan menceburkan diri ke sungai sebagai bentuk perlawanan.

“Masyarakat yang menyadari kejadian ini, sayang kepada beliau, dan tidak ingin jasad  beliau dimakan ikan, sehingga dibuatlah Bakcang dan dibuang ke sungai, dengan catatan Bakcangnya akan dimakan ikan dan tidak memakan jasadnya,” ucapnya.

Ada juga versi sejarah, yang menyebutkan bahwa Bakcang itu dibuat, untuk Jenderal Qu Yuan makan, walaupun sudah meninggal, namun dianggap masih hidup oleh masyarakat saat itu.

Ia menambahkan, makna tradisi ini mengajarkan kepada masyarakat bagaimana  caranya mencintai bangsa dan Negara dengan penuh pengorbanan.

“Bentuk kesetian terhadap Negara ini, Kita lakukan dengan melestarikan kegiatan seperti ini, dan kegiatan ini akan Kami canangkan dalam membangun pariwisata air bertaraf internasional di sungai Kapuas,” ucapnya.

Kehadiran Harry-Yandi, lanjutnya, dalam festival Bakcang dan tradisi mandi Peh Chun ini adalah untuk mendorong, supaya kegiatan ini menjadi sebuah budaya yang akan dijadikan bagian dalam pembangunan pariwisata air bertaraf internasional. (Dody)