Karolin Yakin Kain Songket Bisa Bersaing di Pasar Global

oleh
Cagub Kalbar nomor urut 2, Karolin Margret Natasa saat menghadiri pembukaan Pekan Gawai Dayak XXXIII di Rumah Radakng, Pontianak. Foto : Istimewa

PONTIANAK – Ketika mengunjungi penenun kain songket di Dusun Keranji, Desa Tanjung Mekar, Kabupaten Sambas pada Maret lalu, Karolin Margret Natasa terpesona dengan proses pembuatan khas di daerah tersebut.

Ia pun berdialog dengan kaum perempuan yang sedang menenun. Banyak hal yang diserap dari dialog singkat itu. Dari dialog itulah, Calon Gubernur Kalimantan Barat nomor urut dua itu berkomitmen untuk memajukan usaha mikro kecil dan menengah di daerah ini.

“Industri rumah tangga yang luar biasa. Saya takjub dan beruntung bisa melihat langsung proses pembuatannya. Kalau diberi perhatian yang lebih oleh pemerintah, saya yakin usaha tenun songket ini bisa bersaing di pasar dunia,” kata Karolin.

Kain songket yang dibuat dengan tangan itu sangat indah. Namun proses untuk menghasilkan selembar kain songket, perlu waktu yang cukup lama. Seorang pekerja setidaknya menghabiskan waktu 20 hari untuk kain songket dengan motif yang sederhana.

“Setelah berdialog dengan para wanita dan ibu-ibu yang menjadi pengerajin songket Sambas selama puluhan tahun, saya semakin terpesona,” ujarnya.

Karolin mengatakan, di balik selembar kain songket Sambas yang indah, ada kisah perjuangan para wanita untuk berjuang bagi ekonomi keluarga sekaligus melestarikan budaya.

“Ada jari jemari para ibu yang menaruh harapan masa depan anak-anak dan keluarganya dalam setiap benang yang ditenun menjadi sebuah keindahan,” ucapnya.

Menurutnya bukan hanya sekedar sebagai penutup tubuh atau pelengkap pakaian, kain songket Sambas mengandung filosofi budaya yang tinggi. Yakni masyarakat Sambas yang tekun, ulet dan pekerja keras dalam kesantunan dan keramahan budaya dan adat istiadat.

Pengalaman melihat langsung proses pembuatan songket sekaligus memperkuat semangat dan komitmen Karolin untuk mendampingi dan mengembangkan usaha mikro, kecil, menengah serta industri rumah tangga, sebagai salah satu pilar ekonomi keluarga di Kalbar.

Ia siap memberikan perhatian serius, mulai dari kemudahan bahan baku hingga produksi. Termasuk mencarikan akses pemasaran baik offline maupun online dan permodalan di perbankan, serta pengembangan produk agar dapat bersaing secara luas. “Teruslah berjuang wahai perempuan,” tutupnya. (*)