Karolin Ajak Masyarakat Dayak Kembali Bersatu

oleh
Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kalbar nomor urut 1, Karolin-Gidot saat acara naik dango di Bengkayang. Foto : istimewa

BENGKAYANG – Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Barat nomor urut 2, dr. Karolin Margret Natasa dan Suryatman Gidot mengajak semua masyarakat Dayak yang ada di Kabupaten Bengkayang dan Kalbar, kembali bersatu memenangkan pesta demokrasi pemilihan Gubernur Kalbar 2018.

“Saat ini kita masyarakat Dayak sedang dipecah-pecah oleh sekelompok pihak hanya untuk kepentingan politik. Namun, saya berdiri di sini, mengajak seluruh masyarakat Dayak yang ada di Kalimatan Barat dan Bengkayang khususnya, untuk kembali bersatu dan berjuang untuk memenangkan pilkada Kalbar tahun ini,” kata Karolin, saat menghadiri undangan Naik Dango di Bukit Samano, Kabupaten Bengkayang, Selasa (15/05/18)

Dihadapan ribuan masyarakat Bengkayang yang hadir pada kegiatan Naik Dango tersebut, Karolin menyerukan agar semuanya mengenyampingkan hal-hal tidak penting dan bersatu dalam memenangkan pilkada Kalbar ini.

Menurutnya, berbagai program pembangunan yang sudah dilakukan sebelumnya, harus dilanjutkan, agar masyarakat Bengkayang bisa merasakan dampak pembangunan yang sebenarnya.

“Pada masa pemerintahan pak Cornelis, baru meletakkan pondasi dasar pembangunan berkelanjutan, sehingga estafet kepemimpinan itu harus dilanjutkan oleh gubernur Kalbar yang memiliki visi dan misi yang sama seperti beliau dan yang bisa menggandeng pemerintah pusat dalam membangun Kalbar,” tuturnya.

Untuk itu, kata Karolin, jika masyarakat ingin merasakan pembangunan yang berkelanjutan, maka masyarakat harus bersatu dan ikut berjuang memenangkan pasangan calon nomor urut 2.

“Kalau bukan kita yang membangun, siapa lagi yang bisa kita percayakan dan masyarakat harus menanamkan hal ini pada pikirannya untuk bersama membangun daerah kita,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Karolin juga mengajak rakyat Indonesia dan Kalbar bersatu menentang terorisme dan menghadang upaya infiltrasi terorisme unyuk menancapkan pengaruh atau bahkan berkuasa ke dalam elemen-elemen kekuasaan negara.

“Kita meminta agar semua pihak untuk tidak terpancing aksi provokasi kelompok teroris atau mereka yang bersimpati pada teroris untuk memecah belah Indonesia,” tandas Karolin. (**)