Laporan Ujaran Kebencian Dihentikan Penyelidikannya, Pelapor Sudah Menduga Putusan Bawaslu Sanggau

oleh
Abdul Rahim, SH, pelapor dugaan ujaran kebencian. Foto : Indra

SANGGAU – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Sanggau, Sabtu (21/04/18) telah mengeluarkan putusan terkait laporan tim YAS yang disampaikan pada tanggal 16 April 2018 lalu.

Melalui surat keputusannya nomor 02/LP/PB/Kab/20.12/IV/2018 yang dikeluarkan pada tanggal 21 April 2018, Bawaslu memutuskan proses penanganan laporan dugaan pelanggaran dihentikan dan tidak diteruskan ke penyidik Polres Sanggau.

Koordinator bidang penindakan Bawaslu Sanggau, Alipius, SH mengatakan, hari ini Bawaslu Kabupaten Sanggau telah mengumumkan status laporan yang diterimanya tanggal 16 yang lalu. Statusnya setelah melewati mekanisme penanganan laporan dan Kajian berdasarkan UU pemilihan dan peraturan lainnya yang mengatur tentang pemilihan, Bawaslu menghentikan penanganan karena dugaan pelanggaran yang disampaikan tidak memenuhi unsur pasal  69  Undang-Undang tentang pemilihan.

Menghentikan penanganan disini, kata Dia maksudnya pada rekomendasi, setelah melalui kajian dan analisa terhadap bukti, keterangan pihak yang diklarifikasi.

Dia mempersilakan jika Pelapor melihat ini adalah pidana umum menyangkut pelangaran ITE, silakan melapor ke polisi karena ini ranahnya memang kepolisian.

Menanggapi putusan Bawaslu tersebut, Abdul Rahim, SH, pelapor dugaan ujaran kebencian yang dilakukan oknum pendukung PHYO berinisial AS, yang menyebut pendukung YAS di Buayan komunis mengaku sejak awal sudah menduga putusan Bawaslu Sanggau.

Laporan yang Ia sampaikan ke Panwaslu tidak lain hanya sebatas menghormati Bawaslu sebagai wasit dalam pelaksanaan Pilkada. Putusan Bawaslu, dikatakan Dia semakin memperkuat dugaan bahwa netralitas Bawaslu Sanggau patut dipertanyakan.

“Sudah kami sampaikan data dan fakta tentang apa yang disampaikan oknum AS ini. Dia jelas menyebut pendukung Yansen di Buayan, Kecamatan Meliau sebagai komunis.

“Ini sebenarnya sudah masuk ujaran kebencian yang seharusnya ditindak, tapi ternyata setelah kita lapor, Bawaslu dengan entengnya mengatakan bukan pelanggaran, ada apa dengan Bawaslu ini,” kata Rahim yang menduga Bawaslu sudah tidak netral.

Jika aparat berwenang di daerah tidak bisa mengambil tindakan terhadap pelaku, Rahim menegaskan akan melaporkan kasus ini ke Polda Kalbar.

“Kalau tidak ada juga tindakannya, kami serahkan sepenuhmya penanganan ujaran kebencian ini kepada tim sukses yang dituding komunis, silakan tangkap pelakunya, terserah mau diapakan oknum ini, karena percuma kita minta bantu aparat, toh tak dipedulikan,” ujar Rahim yang mengaku kecewa dengan kinerja Bawaslu dan Kepolisian setempat. (indra)