Jalan Penghubung SP 1 – SP 2 Sekadau Rusak Parah

oleh

SEKADAU – Jalan yang menghubungkan Satuan Pemukiman (SP) I desa Nanga Mentrap, kecamatan Sekadau Hulu dan SP II Desa Selalong, Kecamatan Sekadau Hilir rusak parah.

Jalan yang menjadi satu-satunya urat nadi transportasi warga Transmigrasi wilayah kebun PT Multi Jaya Perkasa (MJP) ini jarang tersentuh.

“Warga disini kalau mau membetulkan jalan harus sewa alat berat sendiri dengan cara urunan. Karena, kalau mengharapkan bantuan Perusahaan tidak akan ada. Sebab, disini kebun plasma, tidak ada kebun inti. Makanya, jalan hancur,” ungkap Sukarman, warga SP I ditemui Minggu (22/04/18) di SP I.

Jalan yang dibangun tahun 1994 ini kata Karman sapaan akrabnya, sebagai jalan pernghubung antar SP Transmigrasi dan sebagai penghubung ke jalan Provinsi yakni jalan Rawak – Sekadau yang belum pernah tersentuh pembangunan.

Setiap hari kata dia lagi, warga yang hendak belanja ke pasar Sekadau harus mandi lumpur. Karena kondisi jalan memang sudah hancur lebur. Lebih parah dari kumbangan hewan.

“Yang kami dambakan hanya jalan yang representatif, karena jalan itu setiap hari kami gunakan, dan tolong diperhatikan. Apalagi jalan ini, adalah satu-satunya sarana transportasi penopang pertumbuhan ekonomi kami. Jadi, saya sangat berharap agar pemerintah daerah Sekadau mau memperhatikan jalan kami,” harap Karman.

Sementara Hartono, warga SP I Desa Nanga Mentrap bercerita, karena jalan rusak dirinya dipukuli oleh warga SP II.
Lantaran truk miliknya amblas di depan rumah warga SP II.

Tanpa tanya lagi, warga langsung menghampiri dan memukuli dirinya, setelah memukul dia langsung melempari dengan tong sampah. Dua pukulan mendarat di kepala Hartono.

Padahal tanpa sengaja truk miliknya amblas di depan rumah Nasri dan mogok, karna jalan disitu memang rusak parah.

“Gara-gara jalan rusak saya dipukuli orang. Padahal, truk saya rusak disitu bukan karena sengaja, tetapi jalan rusak, bahkan lubang bercampur lumpur memang sudah dalam.Jadi, truk saya tak bisa naik,” katanya sambil menunjukan benjolan di kepalanya.

Sebagai pelajaran berharga kata dia, jalan yang harusnya menjadi tangungjawab pemerintah hendaknya diperhatikan.

“Sebagai warga saya minta agar jalan kami di perhatikan, kendati jalan itu adalah jalan peningalan transmigrasi.
Namun, pemerintah daerah juga tidak boleh tutup mata. Tanpa jalan itu, kami tidak bisa membawa hasil pertanian kami keluar. Hasil panen kelapa Sawit dan hasil pertanian lainya yakni sayur-sayuran,” pintanya. (sutarjo)