Petugas Lantamal XII Pontianak Amankan Kapal Bermuatan Rotan Tanpa Dokumen

oleh
Petugas Lantamal XII Pontianak saat mengamankan Nahkoda dan ABK KLM. Putri Setia yang mengangkut Rotan. Foto : Istimewa

PONTIANAK – Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Danlantamal) XII Pontianak, Laksamana Pertama (Laksma) TNI Gregorius Agung W. D menggelar Press Conference penangkapan KLM. Putri Setia di Dermaga Lantamal Xll, Jalan Komyos Sudarso No. 1, Pontianak, Kalimantan Barat.

Dalam keterangan persnya, Laksma TNI Gregorius Agung W. D mengatakan, bahwa KRI Sembilang-850 yang di komandani Mayor Laut (P) Wida Adi Prasetya merupakan Unsur Organik Satuan Patroli Lantamal XII, dibawah kendali Operasional (BKO) Gugus Tempur Laut Armada Barat (Guspulabar) yang dalam satuan tugas “Operasi Poros Sagara 2018” melaksanakan patroli disekitar perairan wilayah kerja Lantamal XII Pontianak, Kalimantan Barat.

“Saat patroli yang digelar (07/04/18) disekitar perairan Pulau Datu, divisi jaga laut melihat kontak mencurigakan dengan haluan ke utara mendekati perbatasan perairan Malaysia pada posisi 01° 26’ 070” U 108° 55’ 075″ T, Komandan KRI Sembilang-850 memerintahkan untuk melaksanakan pendekatan dan peran tempur bahaya umum daIam hal ini peran pemeriksaan dan penggeledahan,” ujarnya, Senin (16/04/18)

Dia menjelaskan, dari hasil pemeriksaan dan penggeledahan terhadap KLM. Putri setia dengan GT. 51 ditemukan muatan Rotan jenis sega kurang lebih 94 ton yang berdasarkan ketentuan berlaku, dilarang untuk diekspor.

Seianjutnya, dari pemeriksaan diperoleh fakta bahwa berdasarkan SPB seharusnya kapal berlayar menuju Jambi. Namun pada saat ditangkap posisi kapal menyimpang sangat jauh menuju ke utara mengarah ke wilayah perairan Malaysia.

Lebih lanjut, Ia mengatakan, Komandan KRl Sembilang 850 melaporkan kepada komando atas (Guspurlabar) dan mendapatkan perintah untuk mengawal kapal menuju Pangkalan Utama TNI AL terdekat, yakni Lantamal Xll Pontianak guna dilaksanakan pemeriksaan lebih lanjut.

“Dari hasil pemeriksaan lanjutan terhadap KLM. Putri Setia oleh aparat Lantamal Xll ditemukan bukti memenuhi unsur tindak pidana kepabeanan (ekspor ilegal),” ujarnya.

Berdasarkan pengakuan Nakhoda KLM. Putri Setia yang berinisial RM, pemberitahuan rencana kapal menuju ke Jambi adalah fiktif belaka untuk dapat memperoleh SPB (Surat Persetujuan Berlayar) dari Syahbandar, sedangkan tujuan kapal yang sesungguhnya adalah ke Sibu Malaysia untuk menyelundupkan rotan.

Adapun fakta-fakta yang diperoleh selama proses pemeriksaan adalah memang benar KLM. Putri Setia melakukan penyimpangan tujuan/track yang tidak lazim dan sangat jauh.

“Pada saat dilakukan penangkapan oleh KRI Sembilang-850, KLM. Putri Setia mengarah kearah utara menuju wilayah perairan Malaysia,” ujarnya.

KLM Putri diduga telah melakukan tindak pidana sebagaimana yang diatur dalam UU No. 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan, pasal 102A huruf a : mengekspor barang tanpa menyerahkan pemberitahuan pabean, pasal 102A huruf e : mengangkut barang ekspor tanpa dilindungi degan dokumen yang sah sesuai degan pemberitahuan pabean. Terhadap dugaan tersebut, pelaku diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 tahun, paling lama 10 tahun dan denda paling sedikit Rp 50 juta hingga Rp 5 miliar.

“Selain dugaan tindak pidana Kepabeanan, KLM. Putri Setia juga diduga melanggar UU No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, karena berlayar tidak sesuai dengan SPB,” ujarnya.

Hal ini didasarkan pada bukti bahwa KLM. Putri Setia menyimpang dari trak yang tercantum dalam SPB, yakni seharusnya berlayar menuju ke Provinsi Jambi, namun kenyataannya KLM. Putri Setia berlayar mengarah ke utara menuju perairan Malaysia. Tindakan lersebut diduga melanggar pasal 193 ayat 1 huruf c jo 317.

“UU No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran dengan ancaman pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 200 juta,” ujarnya.

Ditambahkannya, Anak Buah Kapal (ABK) KLM. Putri Setia tidak dilengkapi Buku Pelaut di duga melanggar Pasal 135 jo 310 UU 17 2008 tentang Pelayaran, dengan ancaman Pidana penjara paling lama 2(dua) tahun dan denda paling banyak Rp 300 juta.

“KLM. Putri Setia  pun tidak memiliki Sertifikat Garis Muat, diduga melanggar Pasal 117 (2) jo 302 (1) UU 17 2008 tentang Pelayaran, dengan ancaman pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp 400 juta,” ujarnya.

Hingga saat ini, nahkoda kapal dan ABK beserta barang bukti telah diamankan dan akan diproses sesuai hukum yang berlaku.

Hadir dalam press conference para pejabat teras lantamal XII, Kepala kantor Bea Cukai Kalbar, Kejari Pontianak, Kadis Kehutanan Provinsi Kalbar, serta Dirpolairud Polda kalbar.  (**)