Dari 96 Penderita TBC Selama 2018 di Singkawang, 1 Orang Meninggal Dunia

oleh

SINGKAWANG – Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Singkawang, pada tahun 2017 penderita TBC yang ada mencapai 377 penderita, dan hal ini melebihi target 327 orang.

“Kota Singkawang melebihi target dalam pencarian TBC, sehingga makin banyak ditemukan TBC, maka semakin baik, karena fenomena penderita penyakit TBC, seperti fenomena gunung es,” ujar Kasi Pencegahan dan Penyakit Menular Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kota Singkawang, Mursalin di Peringatan Hari TBC Sedunia di Mess Daerah Singkawang, Rabu (11/04/18).

Mursalin mengatakan, fenomena gunung es bagi penderita TBC terjadi, lantaran masih banyak penderita yang terkena TBC, namun tidak mendatangi tempat pelayanan kesehatan.

Sehingga jumlah penderita TBC cenderung bertambah, dan untuk mengantisipasi itu, maka pihak Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kota Singkawang serta pihak yang peduli, akan mengambil langkah-langkah pencegahan.

“Kami mengambil langkah jemput bola, jadi kita harus melakukan tiga hal diantaranya aktif, intensif dan masif,” katanya.

Menurut Mursalin, jemput bola ini sangat penting karena puncak dari TBC hingga pada tahun 2020 dan harus menurun 2035.

“Ini sudah menjadi program nasional, dan kita berusaha menurunkan jumlah penderita TBC, dan dari sebaran populasi terdapat 152 penderita per 100 ribu orang pada 2017,” katanya.

Sebaran penderita TBC di Kota Singkawang, jelas Mursalin,  diantaranya Kecamatan Singkawang Barat, Kecamatan Singkawang Tengah dan Kecamatan Selatan.

Ditempat terpisah, Wakil Konselor Tuberkolosis Dinas Kesehatan Kota Singkawang, Padriani mengatakan, jumlah penderita TBC dari Januari 2018 hingga hari ini mencapai 96 orang yang tersebar di lima kecamatan.

“Dari 96 penderita TBC, 1 orang meninggal dunia,” kata Padriani.

Ia menyebutkan, penyebab TBC karena adanya kuman atau bakteri yang masuk ke dalam paru-paru tanpa disadari.

Harus diperhatikan tanda-tanda penderita gejala TBC dapat dilihat dari perkembangan fisik orang tersebut.

“Di antaranya batuk berdahak lebih dari dua Minggu, penurunan berat badan secara drastis dan mengalami demam serta sering keringat malam,” ungkapnya.

Namun tidak cukup hanya berpedoman pada gejala seseorang. Penderita harus aktif memeriksakan diri ke klinik kesehatan seperti Puskesmas maupun rumah sakit.

Sehingga melalui hasil pemeriksaan dapat terdeteksi dan bisa segera dilakukan pengobatan.

Ia mengimbau masyarakat untuk berperilaku hidup sehat agar terhindar dari penyakit TBC.

Bila ada keluarga yang sudah mengidap TBC, diharapkan aktif memeriksakan diri ke Puskesmas ataupun rumah sakit.

“Pasien positif TBC saat pulang ke rumah, ruangan rumah seperti jendela dibuka sehingga memperlambat penularan pada keluarga lainnya,” tuturnya. (Mizar)