Makna Tradisi Makan Saprahan Melayu Kalbar

oleh
Tradisi makan saprahan budaya melayu Kalbar. Foto : dok

Penulis : Rizkia Yulianti

 

PONTIANAK – Indonesia memang memiliki sejuta tradisi dari beragam budaya yang tersebar di setiap daerah yang membentang dari Sabang hingga Marauke, dan dari semua itu, masing-masing darinya tentu memiliki keunikan, filosofi dan maknanya tersendiri yang sesuai dengan kepribadian bangsa.

Kesatuan Bhineka Tunggal Ika dan kemajemukan itulah yang membuatnya menjadi indah. Nah, mari mengintip salah satu yang unik dari Kalimantan Barat, adalah tradisi makan bersaprah atau Saprahan.

Jika bangsa Eropa mengenal istilah table manner sebagai bentuk tata cara formal menyantap hidangan, dengan tiga jenis hidangan yang disajikan mulai dari Appetizer  (makanan pembuka), Main Course (menu utama), hingga Dessert (hidangan penutup), maka masyarakat Melayu Kalbar khususnya di Pontianak, Mempawah, dan Sambas-mengenal istilah saprahan.

Tradisi makan saprahan biasa ditemui pada upacara perkawinan, acara adat keraton, khitanan, syukuran hingga festival budaya Melayu Kalbar.

Tradisi makan saprahan memiliki makna duduk sama rendah berdiri sama tinggi ini.

Prosesi saprahan begitu kental dengan makna filosofis, intinya menekankan pentingnya kebersamaan, keramahtamahan, kesetiakawanan sosial, serta persaudaraan.

Saprahan sendiri merupakan kebiasaan yang sudah ada sejak zaman kesultanan di Pontianak, dilaksanakan secara turun temurun hingga menjadi sebuah tradisi budaya Melayu saat ini.

Saprahan memiliki makna bahwa makan harus bersama sama serempak mulai menyusun dari atas hingga ke bawah atau dari yang tertua hingga yang muda.

Tidak ada perbedaan menu masakan untuk sajian saprahan antara rakyat biasa, pimpinan, dan pemuka-pemuka masyarakat duduk menghadap sajian saprahan, makan dengan teratur, sopan, dan beradat.

Hidangan lauk pauk disajikan pada tempat dinamakan baki ataupun dihamparan kain untuk disantap bersama-sama berkelompok sejumlah 6 orang setiap saprah, di mana kaum pria duduk bersila sedangkan kaum wanita duduk berselimpuh.

Sementara semua hidangan makanan disusun secara teratur di atas kain saprah berwarna putih, hijau maupun kuning cerah.

Pada masyarakat yang masih kental akan tradisi budayanya, banyak aturan yang harus dipatuhi saat akan melaksanakan tradisi saprahan.

Baik dari segi pakaian yang harus digunakan penyaji maupun tamu, menu yang harus disajikan sampai dengan aturan dalam tata langkah serta urutan  dalam penyajian makanan saprahan itu sendiri.

Saprahan seperti ini masih dilaksanakan pada acara tradisional maupun perayaan besar budaya Melayu.

Namun dengan semakin dinamisnya perkembangan saat ini,  Saprahan dapat dilaksanakan tanpa harus menjalankan keseluruhan dari aturan yang ada, namun dengan tanpa mengurangi sedikitpun rasa serta makna dari Tradisi Saprahan yang sesungguhnya. (**)