Persoalan Ideologi Pers Mahasiswa Mulai Pudar

oleh
LPM Universitas Tanjungpura saat berdiskusi disemak belukar. Foto : Istimewa

Penulis: Imam Maksum, Ketua Umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) WARTA IAIN Pontianak, Kalimantan Barat

 

PONTIANAK – Kebanyakan orang berpikir bahwa diskusi hanya dapat dilakukan ditempat yang mewah, seperti di hotel ber-AC maupun dalam ruangan  yang menggunakan kipas angin. Namun kenyataan ini, tidak belaku untuk para mahasiswa yang tergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mimbar Universitas Tanjungpura Pontianak, Kalimantan Barat, yang melangsungkan diskusi ditengah fasilitas yang jauh dari kata mewah.

Diskusi itu berlangsung sore hari, disuatu kawasan sunyi, hening, ada pepohonan dan penuh dengan semak belukar.

Tampak sejumlah mahasiswa LPM Mimbar Untan membuka forum diskusi ditengah semak belukar tak jauh dari sektretariatnya.

Dibawah pepohonan rindang itulah mereka duduk lesehan membentuk lingkaran di atas spanduk bekas berhadapan, spanduk itu warnanya putih, berukuran sekitar 3×4 meter yang sengaja dihamparkan terbalik.

Diatas spanduk itulah mereka berdiskusi membahas permasalahan yang dekat dengan era kekinian.

Suryansyah, satu di antara aktivis LPM MIUN itu bertindak sebagai pembuka jalannya diskusi. Sepatah dua patah kata Dia sampaikan mengenai permasalahan semakin dangkalnya ideologi pers mahasiswa dalam derasnya arus informasi saat ini.

Keterbatasan fasilitas, rupanya tidak menyurutkan niat sejumlah aktivis pers mahasiswa yang berdiskusi sore itu. Seiring semakin condongnya matahari ke ufuk barat, peserta yang ikut duduk pun bertambah. Bermula satu aktivis pers mahasiswa datang, lalu bergabung lagi sejumlah aktivis pers mahasiswa lainya beberapa menit setelahnya.

Sementara dari balik dedaunan, cahaya jingga menyeruak masuk. Pembahasan mengenai isu kekinian pun semakin menarik. Peserta diskusi terpanggil untuk menanyakan bagaimana seharusnya peran mahasiswa dalam menyikapi fenomena media informasi yang kian menjamur. Apa yang seharusnya pers mahasiswa tulis. Apa yang harus mereka sebarkan sebagai bentuk tandingan terhadap informasi yang tak bernilai.

Adalah Aceng Mukaram. Dia merupakan mantan aktivis pers mahasiswa sekaligus jurnalis berbagai media nasional dan media internasional itu ditanya.  Dia duduk sembari menjawab persoalan yang dekat dengan era kekinian.

“Sekarang era dimana kita tidak boleh elergi dengan medsos. Setiap orang harus punya medsos,” kata Aceng Mukaram, sebagai pembicara sore menjelang petang itu.

Namun kata Aceng Mukaram, permasalahan terbesar adalah kita terkadang kebablasan menggunakan medsos.

“Bahkan kita tidak tahu akan arti dan kegunaan medsos itu sendiri,” ujar Aceng Mukaram.

Untuk sekedar diketahui, saat ini ada kecenderungan masyarakat tidak percaya terhadap media meanstream, sehingga memperparah  masalah tersebut. Berangkat dari hal itulah maka tugas pers mahasiswa adalah untuk memperbaiki hal tersebut.

“Ada beban moral di sana yang harus teman-teman lakukan,” kata Aceng Mukaram.

Namun, kata  Aceng Mukaram,  media sosial sering disalah artikan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Kehidupan hari ini cenderung sudah tidak normal sebab kerjaan manusianya di depan gawai atau gadget, tetapi tidak tahu apa kegunaannya.

“Ini menjadi titik menarik jika kita mengupas permasalahan-permasalahan kekinian. Sejauh mana efek dari gawai itu sendiri,” ujarnya.

Hal inilah, yang menjadi catatan khusus bagi kawan-kawan pers mahasiswa yang bergelut dibidang ini. Karena disadari atau tidak, kadang-kadang lupa akan hak-hak mahasiswa.

Tanpa disadari, diskusi lantas kian menarik dengan kedatangan seorang jurnalis media lain. Adalah Gunawan Budi Susilo. Dia merupakan produser salah satu program televisi swasta nasional, yang ikut duduk membaur dengan para aktivis pers mahasiswa.

Sementara kondisi di langit, kian redup, cahaya perlahan menghilang. Kicauan burung berpulang pada sarangnya.

Pria berkaca mata, yang mengenakan baju lengan panjang  itu mengatakan, kegiatan seperti ini terus berulang dengan pembahasan yang pernah dibicarakan.

“Kita mendiskusikan bagaimana menulis yang dibaca orang namun kita sering lupa akan hakikat jurnalistik,” kata pria yang akrab disapa Gunawan ini.

“Selama belasan tahun saya menjadi jurnalis, untuk mengakui bahwa saya betul-betul seorang jurnalis, itu berat,” katanya.

Gunawan  berujar, agar semua pihak yang berkecimpung di dunia jurnalistik untuk mengkaji ulang poin kebenaran di sembilan elemen jurnalistik karya Bill Kovach.

Lalu tanpa terasa langit pun semakin gelap gulita. Hanya ada lampu penerang jalan nan jauh disana. Cahaya lampu kendaraan berlalu lalang bersahutan dengan suara kendaraan. Hingga diskusi usai saat peserta tak lagi dapat melihat paras satu antar lainnya alias gelap gulita, karena berada di dalam semak belukar hutan. (**)