Produksi Beras Sekadau ‘Tekor’ 17 Hari

oleh

SEKADAU – Dari 10 hektare lahan sawah yang sudah ditanam petani di Kabupaten Sekadau, saat ini baru bisa menutupi kebutuhan beras masyarakat Sekadau untuk sebelas bulan 13 hari. Artinya, masih ada 17 hari lagi harus mengomsumsi beras impor.

“Dari 15 ribu hektare lahan sawah yang sudah digarap, baru sekitar 10 ribu yang sudah ditanam oleh petani. Sehingga hasil produksi beras baru bisa menutupi kebutuhan sebelas bulan tiga belas hari. Artinya dalam setahun masih ada tujuh belas hari lagi kita mengkomsumsi beras impor,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, Perikanan, Perternakan dan Perkebunan (DKPPP) Kabupaten Sekadau, Sandae, Kamis (05/04/18).

Sehinga sambung Sandae, tahun ini pihaknya akan fokus untuk meningkatkan produksi beras di Sekadau. Sementara salah satu kendala untuk bisa memenuhi kekurangan ini adalah, karena para petani belum bisa serentak untuk melakukan tanam dua sampai tiga kali setahun.

Bahkan kata dia, secara persentase masih banyak petani yang menanam hanya satu kali setahun, sedangkan yang menanam dua sampai tiga kali setahun, hanya daerah pemukiman transmigrasi.

“Untuk itu tahun kita juga akan mendata jumlah petani yang menanam sekali setahun berapa dan di daerah mana saja. Lalu kemudian berapa orang petani yang melakukan penanaman dua sampai tiga kali setahun. Ini yang harus kita data dulu, tujuan agar PPL bisa fokus mengawasi petani,” kata Sandae.

Ketika ditanya berapa luas rencana cetak sawah pada anggaran tahun 2018 di Sekadau, ia menjawab bahwa tahun anggaran 2018, cetak sawah untuk Sekadau hanya ada 100 hektare.

Dari jumlah ini kata dia, semuanya  berpusat di Kecamatan Sekadau Hulu, Desa Boti. Pertimbangan adalah, agar tidak susah mobilisasi alat berat untuk mencetak sawah.

“Kalau dibagi 20 haktare di berbagai desa, maka biaya mobilisaai alat berat menbengkak. Kita kasian juga kontraktornya,” tutupnya. (sutarjo)