Melalui Program UPSUS Pajale, Kalbar Targetkan Swasembada Pangan

oleh
Ilustrasi

PONTIANAK – Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan, pada tahun depan Indonesia akan mengalami swasembada kedelai.

Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman menargetkan penanaman kedelai seluas 500.000 hektar dengan anggaran APBNP 2017 yang dipusatkan di 20 propinsi mulai dari Sumatera seluas 153.000 hektar, Jawa 130.000 hektar, Kalimantan 27.000 hektar, Sulawesi 110.000 hektar dan NTT dan NTB masing masing 40.000 hektare.

Target tanam serentak ini merupakan bagian dari program upaya khusus (Upsus) swasembada padi, jagung dan Kedelai (pajale).

“Khusus untuk daerah Kalbar tanaman padi tetap surplus, jagung terjadi peningkatan yang signifikan, dan kedelai diharapkan meningkat,” ujar Ir. Dony Saiful Bahri, MMA Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar

Menurutnya, sejalan dengan diadakannya program UPSUS untuk peningkatan produksi padi, jagung dan kedelai di Kalbar pada tahun 2018, maka ditetapkan sasaran program Pajale yaitu padi dengan sasaran tanam seluas 593.548 ha dan panen 564.000 ha, jagung dengan sasaran tanam seluas 94. 401 ha serta panen 92.514 ha, kedelai dengan sasaran tanam seluas 1.300 ha dan panen 1.300 ha.

“Program ini merupakan program Nasional yang dibiayai dengan dana APBN maupun Swadaya masyarakat. Kemudian satu lagi target yang akan kita kejar adalah perluasan tanaman baru untuk padi Lahan kering (Gogo), yaitu seluas 150.000 ha,” tuturnya.

Namun ada kendala, lanjut Dia, yakni kebiasaan masyarakat Kalbar, yang selalu menanamnya di bulan Agustus dan September, disaat musim hujan turun.

“Tapi kami tetap optimis dalam waktu Paling lambat 2 bulan kedepan, akan dapat panen sekitar kurang lebih 50.000 ha. Sesuai arahan Kementerian Pertanian, bahwa daerah harus memberikan kontribusi di tingkat nasional,” tuturnya.

Ia menambahkan, manfaat program UPSUS Pajale ini, yaitu agar hasil panen berlimpah sehingga petani sejahtera dan Kalbar tidak perlu lagi mendatangkan beras dari luar karena sudah surplus beras.

“Andai masuk beras dari luar Kalbar atau luar negeri ke Kalbar, maka harga beras petani di Kalbar akan anjlok. Seperti kita ketahui, beras ini adalah komoditi politik dan harganya harus cenderung stabil, sesuai harga eceran yang telah ditentukan pemerintah,” pungkasnya. (Arief)