Asrama Mahasiwa Sambas di Yogyakarta Memprihatinkan

oleh

PONTANAK – Dewan Kehormatan (DK) Ikatan Mahasiswa Kabupaten Sambas (IKMAS) Yogyakarta meminta Pemerintah Kabupaten Sambas memperhatikan Asrama Mahasiswa Kabupaten Sambas (AMKS) Sultan Muhamad Tsafiuddin di Yogyakrta di jalan Garuda, Gang Beo UH III Yogyakarta.

AMKS merupakan Asset Pemda yang harus di Perhatikan dan di rawat, AMKS Yogyakarta merupakan Struktur bangunan Bekas Rumah 2 lantai bukan Bangunan layaknya Gedung Asrama, di beli tahun 2006 lalu.

Hanya pernah satu kali direnovasi yaitu dengan penambahan 4 kamar di tahun 2014 , jumlah kamar yang sedikit tak sebanding dengan jumlah warga asrama yang cukup banyak, sehingga sudah selayaknya Pemkab Sambas merenovasi bangunan tersebut menjadi layak.

Menurut Ardy Sanjaya DK IKMAS dan juga alumni AMKS tahun 2015, Kondisi asrama saat ini sangat memprihatinkan atap genteng bocor, kamar yang tidak layak, kabel listrik yang semrawut.

“WC hanya 1 yang bisa digunakan, memiliki 7 Kamar yang masing-masing kamar di isi 3 orang, di tambah 2 kamar terbuat dari triplek ukuran 1 x 3 cukup untuk 1 orang dan terdapat lagi 2 Kamar di atas genteng yang ketika kita berdiri kepala kita akan membentur langit-langit kamar,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (28/03/18).

Dijelaskannya, AMKS sering kali digunakan oleh warga Sambas sebagai tempat menginap ketika berkunjung ke Yogyakarta dan tempat menginap bagi warga Sambas yang anak-anaknya akan di wisuda setelah menyelesaikan pendidikanya di Yogyakarta.

“AMKS menjadi rumah sementara bagi setiap warga Sambas yang berkunjung ke Yogyakarta. Sudah selayaknya tempat ini harus dijadikan milik bersama warga Sambas,” paparnya.

Dengan keadaan yang memprihatinkan ini lanjut dia, tentunya warga AMKS tidak tinggal diam, iuran gotong royong untuk memperbaiki sering dilakukan. Bahkan tiap bulan iuran 100.000,- per orang disisihkan untuk memperbaiki atap yang bocor.

Katanya lagi, pengurus AMKS dari tahun ke tahun sering mengirim proposal dan upaya audiensi bersama Pemda Sambas untuk dapat menyelesaikan persoalan bangunan AMKS yang sudah tidak layak ini.

Pentingnya keberadaan AMKS bagi Mahasiswa asal sambas ini Antusias mahasiswa yang berkuliah di sambas untuk tinggal di AMKS banyak sekali, tetapi dengan keterbatasan kamar dan kondisi kamar yang tidak layak pengurus memutuskan untuk membatasi penghuni baru,

Dengan Kondisi kabel listrik yang semrawut sejak bangunan asal di beli dan bangunan yang sudah tidak layak huni di tambah lagi daerah Yogyakarta rawan gempa. sudah selayaknya perlu mendapat perhatian khusus bagi Pemda Sambas.
Ardy meminta Bupati Sambas Atbah selaku Kepala Daerah menanggapi hal ini, AMKS yang sekaligus juga menjadi tempat Sekretariat IKMAS dengan jumlah anggota 150 Mahasiswa/I, biasa digunakan Mahasiswa luar (Kos/Kontrakan) asal sambas maupun luar daerah untuk melangsungkan pertemuan/rapat, belajar kelompok, berdiskusi dan sebagai tempat melepas kerinduan di tanah rantau.

“Selain bangunan AMKS yang tidak layak Aset Seperti Komputer, Televisi, Kipas dan alat Kesenian yang di beli pada tahun 2011 sudah tidak bisa digunakan.” imbuhnya.

Dijelaskannya lagi, AMKS dikenal oleh masyarakat Yogyakarta sebagai pusat Kesenian Akustik Melayu dan Tarian Melayu Sambas di bawah Divisi Kesenian IKMAS cukup sering mengadakan Even besar Kebudayaan Sambas.

“Seperti Gelar Budaya Sambas (GBS), hajatan yang diselenggarakan 2 tahun sekali, dan sering di undang dalam acara Kebudayaan yang di selenggarakan oleh mahasiswa dari luar kalbar untuk menyiarkan budaya-budaya sambas ke khalayak ramai,” pungkasnya. (jon)