Jelang Natal dan Tahun Baru 2018, Harga Daging Ayam Diprediksi Naik Hingga 20 Persen

oleh
Ketua Asosiasi Peternak Unggas (APU) Kalteng, Andi Bustam. Foto : Tva

PALANGKA RAYA – Akibat meningkatnya permintaan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2018, biasanya harga daging ayam potong mengalami kenaikan. Tetapi Ketua Asosiasi Peternak Unggas (APU) Kalimantan Tengah, Andi Bustan, memprediksi lonjakan tidak terlalu signifikan, hanya berkisar 15-20 persen. Tercatat saat ini harga di pasaran Rp 34-35 ribu perkilogram.

“Jika harga ayam sekarang sekitar itu, maka pada saat Natal dan Tahun Baru bisa mencapai Rp 39 ribu sampai Rp 40 ribu perkilogram. Tapi sudah saya beritahu kawan-kawan kalau bisa 10 persen saja. Tapi memang tidak bisa dipungkiri masalah kenaikan selalu ada,” kata Andi di Palangka Raya, Senin (11/12/17).

Sedangkan untuk permintaan kebutuhan konsumsi daging ayam di hari biasa berkisar 18 ribu sampai 20 ribu ekor perhari. Namun pada natal dan tahun baru dapat mencapai 23-25 ribu ekor. Memang saat ini, semua kandang terisi bibit ayam, tapi yang dikhawatirkan apakah ketika perayaan hari besar keagamaan, semua bisa dipanen. Apalagi jika ada kandang peternak yang rusak disebabkan cuaca kurang bersahabat, sehingga akan berakibat populasi ayam berkurang.

Jikapun hal tersebut terjadi, menurutnya masih bisa tertolong, lantaran hampir 45 persen, daging ayam potong masih disuplai dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Selain peternak masih belum mampu memenuhi kebutuhan untuk Kota Palangka Raya dan sekitarnya. Kendati memang tak dipungkiri, instansi terkait telah melakukan antisipasi dengan menyiapkan kandang penyangga. Tetapi bukan merupakan solusi jangka panjang.

“Memang ada inisiatif dari dinas peternakan untuk mengadakan antisipasi. Tapi ini hanya untuk jangka pendek. Tapi jika jangka panjang, ini malah tidak benar. Fungsi dari pemerintahkan dalam hal ini membina, diakan regulator. Kalau peternak-peternak kekurangan, bisa dikasih cara meningkatkan produksi,”ujarnya.

Bukan sebaliknya, malah menambah kandang penyangga. Pasalnya jika peternak terdesak harus memindahkan kandang, lantaran pemukiman semakin padat, mau tidak mau peternak terpaksa membongkar kandang ternak miliknya.

“Apakah sanggup pemerintah selalu membuat kandang penyangga sampai menyiapkan 20 ribu ekor perhari. Ini kan tidak mungkin dan tidak benar jika selalu melakukannya. Pemerintah fungsinya mengatur dan membina bukan ikut bermain di dalamnya,” ucapnya.

Sebenarnya, jika pemerintah daerah setempat mau menyediakan lahan khusus untuk kandang ternak, kebutuhan daging ayam perhari sebanyak 20 ribu ekor bukanlah masalah yang sulit. Jumlah peternak besar ayam sebanyak 50 orang. (tva)