Dua Kepala Dinas Kalteng Sambangi Ervan “Anak Dalam Pagar”

oleh

PALANGKA RAYA – Setelah mendengar informasi ada anak yang dikandang oleh ayahnya di dalam rumah, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB)  Kalimantan Tengah, Lies Fahimah memutuskan menyambangi rumah di Jalan Pinguin Raya, Palangka Raya, untuk melihat secara langsung, Jumat (08/12) untuk melihat langsung kondisi anak tersebut.

Kendati sore hari, hujan deras mengguyur Kota Palangka Raya, tetapi Lies Fahimah berserta dua stafnya tetap berangkat mencari alamat rumah yang dimaksud.

Memang tidak membutuhkan waktu lama ke Jalan Pinguin Raya, tetapi untuk menuju rumah tersebut, cukup sulit, karena hanya bisa dilewati jalan setapak dan berada di dalam hutan. Apalagi setelah diguyur hujan, membuat jalan menjadi sangat becek. Tetapi akhirnya rombongan ini berhasil juga menemukan rumah itu.

Tak berapa lama kemudian, Kepala Dinas Sosial Kalimantan Tengah, Suhaemi juga datang ke rumah itu, untuk bisa mengambil langkah selanjutnya dan segera melakukan koordinasi dengan instansi terkait, seperti Dinas Kesehatan, agar Ervan cepat ditangani.

Lies sangat bersyukur karena yang dikhawatirkannya tidak terjadi. Walaupun Ervan (12), nama anak tersebut berada di dalam pagar, tetapi kondisi Ervan sangat bersih dan ceria. Sang ayah Nur Rahman, mengaku membuat pagar pembatas di dalam rumah, untuk keselamatan anaknya agar tidak keluar rumah ketika ditinggal sendiri.

Sang ayah menuturkan, anaknya menderita keterbelakangan mental setelah tercebur ke dalam air berlumpur saat masih mengontrak barak di Mendawai VII dan sempat dirawat di RSUD Doris Sylvanus selama 1,3 bulan, ketika masih berusia 6 tahun dan berada di ruang ICU selama 14 hari. Dari keterangan dokter yang merawat anaknya saat itu, ada kerusakan pada syaraf yang dialami anaknya setelah musibah itu. Tetapi tidak bisa ditangani tenaga medis setempat.

“Kalau mau kami beri rujukan ke Malang. Tapi karena biaya tidak ada akhirnya kami bawa pulang saja. Waktu itu, ia tidak bisa jalan semua kakinya kaku semua. Alhamdulillah sekarang bisa jalan habis diurut mamanya terus. Matanya juga kadak bisa melihat. Akhirnya kita tatamba kampung. Syukur Alhamdulillah bisa melihat,” ujarnya

Sejak istrinya meninggal pada 2010, Rahman, yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan, tetap memberikan kasih sayang kepada anak ketiganya ini. Kendati tak memiliki biaya, sehingga membuat Nur Rahman harus pasrah dan tak mampu berbuat banyak untuk kesembuhan sang anak Ervan, yang menderita keterbelakangan mental. Satu-satunya harapan hanyalah kepada pemerintah daerah setempat. (tva)