Riwayat Bus Air, Sang Penjelajah Sungai di Kalsel

oleh

BANJARMASIN – Sebelum jalan Trans Kalimantan dibuka, yang menghubungkan Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, masyarakat masih menggunakan transportasi sungai.

Bus air, speedboat dan kapal motor tangkalasa (perahu bermesin mobil) yang  pernah perjaya di era tahun 80 hingga tahun 90-an, adalah angkutan sungai yang banyak diminati masyarakat kedua daerah tersebut.

Hiruk pikuk di semua pelabuhan atau dermaga angkutan sungai ini, seakan tidak pernah sepi dari antrean para penumpang yang naik maupun yang akan turun dari kapal motor, yang membawa atau yang menurunkan mereka di dermaga persinggahan.

Namun setelah akses jalan Trans Kalimantan mulai lancar, angkutan sungai ini pun mulai kurang dilirik, bahkan tersingkirkan. Hari demi hari keramain yang terjadi di dermaga mulai sepi, bahkan terlupakan, sebagaimana di dermaga angkutan sungai bus air, Banjar Raya di perairan Sungai Barito, Banjarmasin.

Kini, dermaga bus air Banjar Raya yang dulunya merupakan salah satu jantung kegiatan ekonomi masyakarat kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, seakan membisu layaknya bangunan tua yang ditinggal penghuninya.

Beberapa sudut bangunan banyak yang rusak berat. Keramaian aktivitas bongkar muat barang yang juga pernah terjadi di dermaga bus air Banjar Raya, nampaknya hanya tinggal kenangan.

Demikian juga barisan tukang ojek yang mengais rejeki dari para penumpang yang datang dan pergi di dermaga, hanya tinggal cerita manis.

Kondisi yang sama juga terjadi di bekas dermaga kapal motor Tangkalasa di kawasan pasar Sudimampir, Banjarmasin. Di dermaga ini tidak terlihat lagi, barisan kapal motor Tangkalasa (perahu bermesin) dan pedagang yang menjajakan makanan ringan dan minuman untuk sekedar bekal para penumpang selama dalam perjalanan.
Sedangkan pengusaha angkutan sungai, lebih memilih mengalihkan modalnya ke sektor lain, lantaran transportasi sungai tidak lagi menjadi primadona seperti di masa lalu.

Sementara masyarakat sendiri lebih memilih menggunakan transportasi darat, selain jarak tempuhnya yang cepat juga praktis.

Solusi Alternatif, mengurai kemacetan kendati kejayaan transportasi sungai sudah berlalu, namun bagi Anton, penumpang yang pernah menikmati angkutan sungai di era 80 an itu mengaku memiliki catatan sendiri.

Menurutnya, sarana transportasi sungai yang pernah ada di Banjarmasin, seperti bus air dan kapal motor Tangkalasa, perlu dihidupkan kembali. Selain kedua angkutan sungai tersebut ramah lingkungan dan murah juga aman, karena hampir tidak pernah terjadi kecelakaan, sebagaimana angkutan darat.

Dari hasil pengamatan di lapangan, aktivitas angkutan sungai ternyata dapat memperlambat penebalan endapan lumpur di sepanjang sungai yang menjadi lintasan bus air dan kapal motor Tangkalasa jurusan Banjarmasin-Palangkaraya dan kota lainnya di Provinsi Kalimantan Tengah.

Kini setelah sarana transportasi sungai tidak lagi menjadi pilihan masyarakat, di sepanjang sungai tersebut, seperti anjir, endapan lumpur terlihat agak menebal, apalagi saat musim kemarau panjang. Padahal, sebelumnya hal itu tidak pernah terjadi, sekalipun saat musim kemarau panjang.

Seperti Anton, harapan kepada masyarakat agar kembali menggunakan angkutan sungai, sebagai sarana transportasi alternatif, juga pernah disampaikan Asmawi Agani saat beliau masih menjabat sebagai Gubernur Kalimantan Tengah.

Hal itu, disampaikannya terkait solusi, terputusnya beberapa ruas jalan akibat banjir.  Hal yang sama juga didengungkan Kepala Dinas Sungai dan Drainase Kota Banjarmasin, Muryanta.

Menurutnya, angkutan sungai adalah menjadi pilihan untuk mengurai kemacetan arus lalu lintas yang terjadi di Kota Banjarmasin. Apalagi wilayah Banjarmasin, di kelilingi banyak sungai yang melingkar bagai ular raksasa.

“Dalam rangka mengurangi kemacetan arus lalu lintas di kota Banjarmasin, kita akan hidupkan kembali angkutan sungai dengan membangun dermaga angkutan sungai, seperti speedboat dan klotok,” ucap Muryanta.

Ditambahkan Muryata, selain mengurai kemacetan, angkutan sungai juga diharapkan dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing yang berkunjung ke kota berjuluk “Kota Seribu Sungai” itu, dan mendongkrak pendapatan asli daerah kota Banjarmasin itu sendiri.

Untuk merealisaikan itu, pada akhir tahun 2013 pihak Pemko Banjarmasin melalui Dinas Sungai dan Drainase, membangun kembali dermaga speetboad, diperairan Sungai Martapura Banjarmasin. Demikian juga beberapa dermaga klotok (perahu bermesin) akan dibangun di beberapa titik di kota Banjarmasin.

Jika speedboat untuk mengangkut penumpang jurusan antar provinsi, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, sedangkan klotok beroperasi untuk angkutan dalam wilayah kota Banjarmasin. (muji)