Wow.! 67 Jenis Mangrove Ada di Hutan Bentang Pesisir Padang Tikar, Kubu Raya

oleh
Rencana ekspose hasil indentifikasi jenis tumbuhan mangrove di hutan desa bentang pesisir Padang Tikar, Kubu Raya

PONTIANAK – Direktur Sampan Kalimantan, Dede Purwansyah, Kamis (23/11/17) mengatakan, dalam waktu dekat ini, pihaknya akan mengekpsos hasil identifikasi jenis tumbuhan mangrove yang ada di hutan bentang pesisir Padang Tikar, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat.

Menurutnya, upaya tersebut dilakukan guna menggalang dukungan para pihak untuk menjaga serta mengoptimalkan hutan mangrove secara lestari dan berkelanjutan.

Dede purwansyah menerangkan jika kawasan pesisir dan laut Indonesia miliki potensi dan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.

“Rencana tanggal 28 November kita ekspos, dan perlu diketahui salah satu potensi utama wilayah pesisir adalah hutan mangrove. Kami delapan bulan ini sudah melakukan identifikasi jenis mangrove di wilayah bentang pesisir Padang Tikar, Kubu Raya. Hasilnya menakjubkan. Ada banyak jenis mangrove ditemukan disini,” ujarnya.

Lanjut dede, untuk di Indonesia sendiri, ada 202 jenis mangrove, terdiri dari 89 jenis pohon, 5 jenis palma, 19 jenis pemanjat, 44 jenis herba tanah, 44 jenis epifit, dan 1 jenis paku. Dari 202 jenis mangrove itu, dari hasil identifikasi ada 67 jenis mangrove hidup di Kubu Raya. Dari 67 itu, 33 spesies mangrove sejati dan 34 spesies mangrove ikutan.

“Jumlah ini lebih banyak dibandingkan 50 spesies mangrove yang dilaporkan sebelumnya oleh UNEP dan IMReD 2004 lalu, yakni 23 spesies mangrove sejati, 8 spesies mangrove ikutan dan 19 spesies ecotone dan terresteriel,” terangnya.

Sementara dari total keseluruhan jumlah jenis mangrove se Indonesia, kata Dede, hutan mangrove bentang pesisir Padang Tikar, mempresentasikan 76,7 persen dari total mangrove sejati di Indonesia, 22 persen dari total mangrove ikutan se-Indonesia.

Dirinya berharap, dari temuan identifikasi yang dilakukan ini, ke depan mangrove Kubu Raya bisa menjadi mega biodiversity di Indonesia yang berguna sebagai laboratorium alam. Hasil yang diharap, semoga bisa terdesiminasikan mangrove bentang pesisir Padang Tikar sebagai kekayaan hayati wilayah pesisir Kalbar.

Kemudian, hal ini juga bisa sebagai pertukaran informasi tentang upaya perlindungan dan pengelolaan mangrove berbasis kearifan lokal di Kalbar yang bisa berguna sebagai bahan rekomendasi kebijakan di Kalbar.

“Terakhir tentu munculnya para pihak untuk mendorong pengelolaan mangrove yang adil dan berkelanjutan dan berguna bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan keseimbangan lingkungan,” pungkasnya (Budi)