FUMPE Entikong Minta Permasalahan Ahmadiyah Diselesaikan di Tingkat Kabupaten

oleh
Raden Nurdin. Foto : Istimewa

SANGGAU – Menanggapi pernyataan Ahmadiyah di media online, Ketua Ketua Forum Umat Muslim Perbatasan (FUMPE) Kecamatan Entikong, Raden Nurdin akan melakukan perlawanan terhadap pergerakan Ahmadiyah.

Untuk itu, Raden Nurdin meminta persoalan Ahmadiyah di Entikong diselesaikan di tingkat Kabupaten. Ahmadiyah pun diminta untuk tidak menggunakan nama islam dalam pergerakannya.

“Kalau tidak mau dianggap sesat dan diakui negara, jangan gunakan nama islam, silakan gunakan nama agama Ahmadiyah,” tegasnya, Kamis (23/11/17)

Dijelaskan Raden Nurdin, bahwa Islam mengakui bahwa Muhammad SAW adalah Nabi terakhir, tidak ada lagi Nabi setelahnya.

“Inilah persoalannya, mereka itu secara tegas tidak mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir, dalam shadat mereka tidak mengakui itu, kalau mau bikin jak agama sendiri, jangan bawa-bawa islam,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Forum Umat Muslim Perbatasan (FUMPE) Kecamatan Entikong, Raden Nurdin meminta aparat keamanan menindak tegas Ahmadiyah diwilayah itu. Pasalnya, pergerakan Ahmadiyah di wilayah kecamatan Entikong sudah sangat meresahkan.

“Mereka menyasar para muallaf yang belum mengenal betul ajaran islam. Kita khawatir mereka memberikan pemahaman yang salah kepada umat,” kata Raden Nurdin via selular, Minggu (19/11/17).

Ditegaskan Raden Nurdin yang juga Kepala Desa Entikong itu, apapun kegiatan yang dilakukan Ahmadiyah, berdasarkan surat keputusan bersama (SKB) tiga Menteri jelas menyebutkan pelarangan semua kegiatan Ahmadiyah di Indonesia.

“Kami tidak mau Desa kami terganggu dengan aktifitas mereka,” ujarnya.

Kepada masyarakat Entikong, Raden Nurdin mengimbau umtuk tidak mudah termakan bujuk rayu oleh oknum yang menyebarkan paham Ahmadiyah yang jelas-jelas ingin merusak citra islam.

“Dan kami meminta kepada pemerintah khususnya aparat keamanan agar membubarkan pergerakan Ahmadiyah di Kecamatan Entikong sesuai dengan surat keputusan bersama 3 Menteri yang mengatakan bahwa ajaran/paham Ahmadiyah dilarang keberadaannya di Indonesia,” pungkasnya. (indra)