Gubernur Kalteng Menangis Didepan Tim Saber Pungli

oleh
Gubernur Kalteng Sugianto Sabran

PALANGKA RAYA – Kegiatan satuan tugas (satgas) sapu bersih (saber) pungutan liar (pungli) ke Kalimantan Tengah, untuk melakukan sosialisasi Peraturan Presiden nomor 87 tahun 2016 tentang satgas sabar pungli di Bumi Tambun Bungai, mendapat apresiasi dari Gubernur Kalimantan Tengah, Sugianto Sabran.

Kedatangan satgas itu, tentunya sangat membantu untuk menambah wawasan bagi Pemprov Kalteng, yang tengah membenahi Pergub No 27 tahun 2017 tentang pengelolaan dan penerimaan sumbangan pihak ketiga dari sektor tambang, kehutanan dan perkebunan, sehingga tidak ada lagi kesalahan dalam menjalankan kebijakan.

“Bahkan kalau bisa, satgas saber pungli dan KPK ditempatkan di kantor gubernur, agar bisa mengapit Pergub ini sehingga nantinya Kalteng dapat benar-benar bersih dari pungli. Jadi saya tidak ragu lagi mengambil kebijakan dan saya tetap lurus ke depan kalau diapit. Saya ingin membangkitkan generasi muda Kalteng yang bersih dari pungli,”kata Sugianto dalam sambutannya saat kegiatan itu, di Hotel Danum Palangka Raya, Rabu (15/11/17).

Momentum itu, tentu saja tak mau dilewatkan begitu saja oleh gubernur untuk mengeluarkan semua perasaan kepada Sekretaris Satgas Saber Pungli Irjen M Ghufron yang datang untuk memberikan sosialisasi.

Menurut gubernur, saat mengambil keputusan melakukan penarikan terhadap pihak ketiga, yang ada di pikirannya hanya bagaimana caranya biar masyarakat Kalteng bisa sejahtera, bukan bermaksud menabrak aturan. Padahal selama ini, Kalteng terkenal dengan kekayaan sumber daya alam (SDA), tapi dikeruk habis-habisan oleh pengusaha dari luar.

Dirinya tak pernah menyangka, akibat kebijakannya tersebut, apa yang telah dilakukanya, dinilai merupakan pungutan liar, yang bisa saja membuatnya terjerumus ke dalam penjara. Tapi ia tak pernah berpikir sejauh itu. Karena yang ada dibenaknya semua semata-mata demi kesejahteraan masyarakat.

Ditengah-tengah sambutannya, suaranya yang semula lantang, terdengar agak berkurang. Ternyata setelah diperhatikan, gubernur meneteskan air mata. Tapi ia menangis bukan karena kebijakannya yang dianggap melanggar aturan, tapi lantaran tidak kuat membayangkan jika pengusaha yang menanamkan investor di Kalteng, hanya untuk membuat masyarakat semakin miskin. Sedangkan pemerintah seolah tak mampu berbuat banyak dan berdiam diri saja.

“Apa gunanya saya jadi gubernur kalau hanya melihat masyarakat saya menderita karena sumber daya alam habis dibawa ke luar. Saya jarang menangis. Makanya kami memang menginginkan sosialisasi ini. Bantu kami agar birokrasi kami tata. Tapi pengusaha nakal yang ngeplang pajak dan tidak bayar royalti, akan tetap kami kejar,”imbuhnya.(tva)