Orangtua Siswa Salahsatu Sekolah di Sanggau Keluhkan Iuran ‘Siluman’

oleh
Ini Isi Surat Imbauan Nonton Film Yang Diterima Para Orang Tua Siswa di Kota Sanggau.

SANGGAU – Setelah dibebankan dengan foto kopi buku paket, siswa sekolah dasar (SD) di Kota Sanggau kembali dibebankan dengan penayangan film ilmu pengetahuan versi 4D yang diselenggarakan sekolah-sekolah di Sanggau. Keberatan orang tua karena dibebankan dengan biaya Rp25 ribu persiswa untuk menonton film tersebut.

Seperti yang dikeluhkan Bg Din, salah satu orang tua siswa di Kota Sanggau. Dikatakannya, meskipun hanya imbauan, surat yang dikirim dengan meminta persetujuan siswa itu dianggap memberatkan orang tua siswa.

“Sekarang yang menjadi pertanyaan saya, urgensi pemutaran film itu apa, ada tidak korelasinya dengan peningkatan mutu anak-anak,” katanya, Kamis (09/11/17).

Dia pun mengaku aneh, surat imbauan yang dterima para orang tua siswa bukan berkop sekolah atau Dinas Pendidikan, akan tetapi Angkasa Raya Edutainment yang nota bene penyelenggara pemutaran film.

“Kalau sekolah bisa menjelaskan korelasinya dengan mutu pendidikan anak, saya tidak masalah,” katanya.

Dia mempertanyakan, kemana Dinas Pendidikan Kabupaten Sanggau yang tidak jeli melihat ulah sekolah-sekolah.

“Dinas Pendidikan tahu tidak adanya pemutaran film ini, ada izinnya tidak,” ujarnya mempertanyakan.

Sebelumnya, sejumlah orang tua siswa Sekolah Dasar di Kota Sanggau mengeluhkan foto kopi buku paket yang dibebankan kepada anak-anak mereka. Menurut para orang tua, foto kopi buku paket tersebut sudah berlangsung cukup lama. Oleh karenanya, mereka mempertanyakan kemana dana Bantuan Operasional Siswa (BOS) yang diberikan Pemerintah untuk membiayai operasional siswa.

“Setahu saya Pemerintah Pusat mengucurkan dana yang tidak sedikit untuk mewujudkan sekolah gratis,” kata Handayani, salah satu orang tua siswa kepada wartawan, Minggu (05/11/17).

Dia juga berharap Pemerintah Daerah melalui Dinas terkait segera menindaklanjuti keluhan orang tua siswa agar orang tua siswa tidak lagi dibebankan dengan urusan yang sebenarnya sudah ditanggung pemerintah.

“Saya kasihannya siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu, kalau setiap mata pelajaran disuruh foto kopi lumayan juga besarnya, iya pas lagi ada duet, kalau pas lagi tidak ada, kan kasihan oramg tua mereka,” katanya. (indra)