Rumah Betang, Lambang Adat Istiadat Dayak

oleh
Bupati H.Nadalsyah saat selesai meresmikan rumah betang Olo Lio di Desa Muara Mea, Kecamatan Gunung Purei

MUARA TEWEH – Pembangunan rumah betang di Desa Muara Mea, Kecamatan Gunung Purei, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, sudah selesai dibangun. Apalagi, bangunan ini bisa digunakan setelah diresmikan oleh Bupati H. Nadalsyah, Rabu (08/11/17).

Peresmian tersebut dengan disambut acara adat  Teboyan yang dihadiri ketua DPRD Barito Utara, Set Enus Y. Mebas, Sekda Jainal Abidin serta beberapa kepala SOPD di lingkungan Pemkab Barito Utara.

Sebelum meresmikan Rumah Betang ini, rombongan bupati bertolak dari Desa Lampeong menuju Desa Muara Mea menggunakan kendaraan roda dua dengan mengitari hutan hingga tiga kilometer. Dimana jalan tersebut adalah perbukitan.

Sesampainya di Desa Muara Mea, ratusan warga sudah menyambut kedatangan dengan upacara potong pantan yang diiringi para penari warga dayak setempat.

“Rumah Betang Olo Lio ini diharapkan dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Diantaranya untuk memusyawarahkan yang ada hubungannya dengan adat istiadat,” ungkap Bupati H. Nadalsyah kepada pemerintah Desa Muara Mea.

Selain bisa dipergunakan untuk kegiatan adat, juga dapat dipergunakan untuk pelaksanaan kegiatan pelestarian budaya daerah dan kegiatan masyarakat lainnya.

“Kepada masyarakat dan pemerintah desa Muara Mea, agar dapat menjaga dan memelihara keberadaan rumah Betang Olo Lio  yang telah dibangun. Dan dapat dipelihara untuk kepentingan warga,” katanya.

Menurutnya, rumah betang merupakan warisan para pendahulu yang tak bisa dipisahkan dengan adat istiadat dayak. Dimana rumah yang luas tersebut, dulunya telah dihuni beberapa keluarga.

Oleh sebab itu, rumah betang merupakan budaya yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat dan ini harus dilestarikan demi anak cucu. (Bani)