Jumlah Pengangguran di Kalteng Menurun

oleh
Kabid Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng, Syafi'i didampingi Kabag TU, Amos Adam Residul, saat pres rilis, di Aula BPS, Senin (06/11/17)

PALANGKA RAYA – Jumlah angkatan kerja Provinsi Kalimantan Tengah pada Agustus 2017, sebanyak 1.276.669 orang, turun 34.758 orang jika dibanding Agustus 2016. Sedangkan penduduk yang bekerja sebanyak 1.222.707 orang, turun sebanyak 25.482 orang, dibanding tahun lalu.

“Jumlah pengangguran sebanyak 53.962 orang, mengalami penurunan sebanyak 9.276 orang dibanding setahun yang lalu,” kata Kabid Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng, didampingi Kabag TU, Amos Adam Residul, saat pres rilis, di Aula BPS, Senin (06/11/17).

Untuk tingkat pengangguran terbuka (TPT)  sebesar 4,23 persen, turun 0,59 persen poin dibanding Agustus 2016. Beberapa faktor yang diduga mempengaruhi penurunan TPT adalah berdirinya dua pabrik pengolahan kelapa sawit (CPO) di Kecamatan Bulik, Kabupaten Lamandau pada 2016, yang banyak menyerap buruh harian lepas dan mampu menampung hasil sawit dari perkebunan pribadi milik masyarakat.

Subsektor perkebunan sawit, merupakan yang paling besar pembagiannya untuk Kabupaten Lamandau meningkat dari 2015, indeks harga yang diterima petani naik 1,05 persen, lebih tinggi dari indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,02 persen.

Bantuan Pemda Lamandau untuk beberapa desa di Kecamatan Delang berupa mesin dan pabrik pembuatan tahu dan batako, mesin penggilingan padi dan mesin isi ulang air minum, yang membuka lapangan kerja bagi masyarakat pedesaan di akhir tahun 2015. Ditambah membaiknya harga karet.

Selain itu karena berdirinya pabrik CPO, yang juga menampung hasil panen sawit masyarakat di Gunung Mas. Pemanfaatan anggaran dana desa, yang diprioritaskan pada infrastruktur jalan dan jembatan, yang menggunakan tenaga kerja lokal atau warga setempat.

Pembangunan infrastruktur di daerah hulu, sebagai implementasi visi dan misi pemerintah di beberapa kabupaten dalam mengurangi keterisolasian antar wilayah.

“Sebelumnya jengkol yang kurang menarik perhatian masyarakat untuk dijadikan usaha, namun sejak harga jengkol yang saat ini mencapai Rp 10 ribu per kilogram, sebagian besar masyarakat Murung Raya menambah penghasilan dengan mencari jengkol,” ujarnya. (tva)