Rabies Masih Jadi Momok Menakutkan di Kalbar

oleh

PONTIANAK – Pemerintah provinsi (Pemprov) Kalimantan Barat mengakui jika penyakit zoonosis (infeksi penyakit hewan ke manusia) seperti rabies, masih menjadi momok menakutkan di Provinsi Kalimantan Barat. Pasalnya, pemberian vaksin kepada hewan yang belum optimal, adalah satu diantara sejumlah kendala pemerintah dalam mengendalikan penyebaran virus rabies tersebut.

“Berbagai upaya terus dilakukan Pemprov Kalbar untuk memutuskan mata rantai penyebaran rabies di daerah ini. Namun sangat disayangkan, meski sudah dilakukan upaya pencegahan, tapi penyakit yang bisa ditularkan melalui gigitan hewan seperti anjing, kucing, kelelawar dan monyet itu tetap mewabah di sejumlah kabupaten di Kalbar,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, Andi Jap, di Pontianak Rabu (01/11/17).

Dirinya mengakui, jika sebagian besar masyarakat sudah paham dan mengenal penyakit rabies. Disamping itu, Pemerintah daerah juga terus melakukan penyuluhan tentang penanganan awal penyakit ini, sehingga jika ada korban yang digigit hewan yang diduga tertular rabies, bisa dilakukan tindakan penyelamatan awal.

“Namun keterbatasan vaksin anti rabies (VAR) yang diberikan kepada hewan masih menjadi kendala. Karena dari data Dinas Pangan Peternakan dan Kesehatan hewan Kalbar, sejauh ini baru 60 persen saja populasi hewan khususnya anjing, yang sudah divaksin,” terangnya.

Meskipun demikian, diakui Andi Jap, pemberian vaksin untuk hewan yang rawan terjangkit rabies, menjadi hal penting karena interaksi hewan secara liar, sangat berpotensi untuk menularkan virus rabies ke hewan lainnya.

Sedangkan untuk ketersediaan virus anti rabies yang diberikan kepada manusia, lanjutnya, sampai saat ini, stoknya masih ada sekitar 2.000-an.

“Sesuai jenjang, biasanya stok var tersebut akan diberikan kepada daerah yang kasus rabiesnya mulai mengalami peningkatan,” pungkasnya. (Budi)