Wabah Scabies Ancam Warga Bantaran Sungai Kapuas, Ini Langkah Antisipasi Dinkes Pontianak

oleh
Salahsatu kaki warga yang diduga terkena penyakit Scabies

PONTIANAK – Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu memastikan warga yang terpapar scabies disebabkan sejenis kutu atau tungau. Kesimpulan ini didapat setelah Dinkes melakukan penelitian.

“Jadi penyakit ini ditularkan oleh kontak personal. Misalnya kita berjabat tangan, pakaian, tempat tidur, handuk dan segala macamnya,” katanya, Senin (30/10/17).

Hingga saat ini, sudah ada 58 orang warga setempat dalam data Dinkes yang terjangkit. Sidiq menerangkan, mereka sudah diobati. Pihaknya kembali turun ke lapangan untuk mengecek, pengobatan, serta sosialisasi ke masyarakat.

“Kita akan lanjutkan dengan penyuluhan, karena penyakit ini kalau tidak diobati secara keselurahan, tidak akan bisa. Mengobatinya harus massal,” jelasnya.

Sementara soal kutu atau tungau penyebar scabies, tidak diketahui secara pasti dari mana berasal. Namun dia menjelaskan, kasus seperti ini memang biasa muncul di lingkungan padat penduduk. Misalnya tiga sampai empat orang yang tinggal dalam satu kamar.

“Biasanya penyakit ini ada di asrama-asrama. Makanya ini cepat menular, satu orang saja yang kena maka menular, ini bersifat menular. Penyakit ini tidak fatal, karena gatal yang luar biasa maka digaruk lalu infeksi, tapi tidak merusak secara sistemik,” ucapnya.

Penyakit ini, kata Sidiq tidak bisa ditangani sekaligus. Harus bertahap dan berkali-kali dikerjakan. Pengawasan periodik mesti diterapkan. Apalagi kawasan tersebut merupakan perumahan padat penduduk. Perlu waktu lebih. Pengobatan yang diberikan Pemkot, gratis.

“Pengobatan ini khas, tidak seperti penyakit lainnya. Setelah dioleskan maka tidak boleh mandi dulu selama 24 jam, biar obatnya masuk ke dalam sampai tungaunya mati. Kalau sudah pakai obat ini sore, maka besok sore baru boleh mandi. Pemahaman ini harus kita sosialisasikan,” terangnya.

Walau demikian, Sidiq Handanu memastikan penyakit ini tidak bahaya. Namun jika terjadi infeksi level sekunder, malah akan berbahaya. (Dede)