Aprindo Berharap Pemerintah Turut Serta Mendorong Usaha Ritel di Kalbar

oleh
Ketua Aprindo Kalbar, H. Daniel E Tangkau, SH. Foto : Arief

PONTIANAK – Lesunya pertumbuhan bisnis ritel pada akhir ini tidak dapat dilepaskan dari minat masyarakat terhadap ritel-ritel “Pendatang Baru”, disamping daya beli masyarakat yang menurun, demikianlah hal itu diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Retail (APRINDO) Kalbar, H. Daniel E. Tangkau, SH, Minggu (29/10/2017).

Menurut Daniel, ada beberapa faktor yang membuat pasar ritel menjadi lesu, yakni daya beli masyarakat menurun, karena kemajuan teknologi masyarakat sudah mulai berbelanja secara online serta hadir nya ritel “Pendatang Baru” yang menyajikan pelayanan lebih mudah dan elegan. Munculnya ritel baru tersebut, mengakibatkan pasar ritel lama yang pada awalnya jadi andalan masyarakat, sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan.

“Seperti yang terjadi pada Matahari dan Ramayana, mereka baru ramai datang belanja setelah ada diskon besar-besaran sampai 70% baru masyarakat berbondong-bondong, disamping itu masyarakat lebih senang mencoba gerai ritel “Pendatang Baru”, seperti Hypermart dan Carrefour, karena menurut mereka lebih mudah dan leluasa mencari varian yang lebih komplit sampai yang menjual kebutuhan pokok,” ungkapnya.

Dalam hal ini, Daniel pun menjelaskan, bahwa Aprindo akan berusaha menjaga stabilitas usaha ritel di Kalbar, karena merupakan aset daerah, dan juga demi kemajuan usaha ritel serta menciptakan lapangan kerja.

Sebagai besar masyarakat ingin belanja murah tapi ingin kualitas yang baik, dan ini adalah sebab menurunya omzet pengusaha ritel. Kemudian munculnya ritel-ritel baru menampilkan produk-produk yang lebih menarik dari gerai ritel lama, bahkan ritel baru lebih komplit sampai menjual bahan kebutuhan pokok.

“Sistem pelayanan ritel baru yang lebih mudah dan modern sangat memanjakan konsumen. Aprindo berharap ada peran pemerintah dalam mengatasi persoalan ini, karena usaha ritel telah memberikan kontribusi ke kas daerah,” pungkasnya. (Arief)