Kuliner, Fashion dan Kerajinan Jadi Sektor Potensi Ekraf di Pontianak

oleh
Wali Kota Pontianak, Sutarmidji. Foto : Budi

PONTIANAK – Sebagai kota perdagangan dan jasa yang tidak memiliki sumber daya alam (SDA), Wali Kota Pontianak, Sutarmidji berhadap Ekonomi Kreatif (Ekraf) bisa berkontribusi besar terhadap Penerimaan Domestik Bruto (PDB) Kota Pontianak.

“Kontribusi ekraf saat ini adalah sebesar 7 persen terhadap PBD nasional, dan ekraf sendiri menargetkan bisa memberikan kontribusi 12 persen dari PDB, sehingga jadi tulang punggung nasional dan bagi daerah yang tidak memiliki SDA itulah ekonomi kreatif yang memiliki 16 jenis, sedangkan di Pontianak yang berkembang 3 jenis yakni, kuliner 34 persen lebih, fashion 27 dan kerajinan 14 persen lebih, yang lain sisanya,” Ujar Wali kota Pontianak, Sutarmidji, Seusai membuka Rapat Koordinasi Pengembangan Ekonomi Kreatif Pemerintah Daerah Wilayah Kalimantan Dan Sumatra, disalah satu Hotel di Pontianak, Jum’at (27/10/17).

Menurut Sutarmidji, pada 2013 pertumbuhan ekraf mencapai 5,76 persen atau lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional 5,74 persen. Hal ini lah yang harus dilirik oleh pemerintah daerah terlebih kota pontianak, yang harus memanfaatkan hal ini, untuk berkontribusi terhadap APBD.

“Secara nasional ekraf ini berkontribusi terhadap devisa negara sebesar 119 trilyun atau sebesar 5,72 persen dari total ekspor nasional, ini kan angka yang luar biasa. Ekraf di Pontianak berkembang pesat, kuliner kita sangat bervariasi, fashion juga sangat bangus dan sering menang lomba serta kerajinan juga luar biasa. Dan suatu saat akan memberikan kontribusi besar bagi PDB kota pontianak,” katanya.

Lanjut Sutarmidji, jika saat ini ekraf tersebut masih terus berkembang, dimana pengembangan ekonomi kreatif itu bersumber dari ide, dan memanfatkan teknologi informasi, sehingga harus ditopang oleh SDM yang baik,

“Kita lihat saja pemerintah pusat pada APBN 2018 sekarang fokus pada peningkatan SDM. Artinya pemerintah serius membangun ekraf dan kita harus ambil peluang itu, sebab sebagai kota perdagangan dan jasa yang tidak punya SDA, Pontianak harus memanfaatkan hal ini, dan saya minta anak muda untuk kreatif,” pintanya.

Sementara kegiatan Rakor pengembangan ekraf ini sendiri, dilakukan untuk mengetahui sejauh mana arah kebijakan, strategi, serta regulasi dan kelembagaan pemda dalam pengembangan ekonomi kreatif (ekraf) yang dihadiri sejumlah perwakilan pemerintah Kabupaten/Kota dari pulau Kalimantan dan Sumatra. (Budi)