PT. TBS Sudah Kantongi BA Verifikasi Lapangan BLH

oleh
Mill Manager PT. TBS Kembayan, Sangal Leoward Butar Butar Menunjukan Berita Acara Verifikasi Lapangan Yang Dilakukan BLH Sanggau

SANGGAU – Tudingan dugaan pencemaran lingkungan yang berasal dari limbah pabrik pengolahan kepala sawit milik PT. Tayan Bukit Sawit (TBS) Kembayan, beberapa waktu lalu, akhirnya terselesaikan. Mill Manager  PT. TBS Kembayan, Sangal Leoward Butar Butar menegaskan, yang terjadi bukanlah kebocoran limbah seperti yang diberitakan salah satu media online. Pencemaran sungai Hibun lantaran pengerjaan pembuatan kolam limbah perusahaan tersebut.

“Kita sedang membuat kolam nomor 10 dan 11. Ketika itu cuaca kan hujan. Akibatnya galian itu terbawa air hingga ke sungai. Dengan keruhnya air sungai, oksigen kan berkurang,   menyebabkan ikan mati. Itupun ikan yang kecil-kecil, ikan yang besar tidak,” katanya kepada wartawan, Selasa (24/10/17).

Dia menjelaskan, pembuatan dua kolam limbah itu lantaran sembilan kolam lainnya tak dapat lagi menampung limbah sawit. Sementara perusahaan belum mengantongi izin parameter alam yang dikeluarkan BLHD Provinsi.

“Itu berdasarkan analisa lab. Izinnya masih dalam pengurusan. Kan ada izin pembuangan limbah cair. Itu sedang kita urus. Limbah belum bisa kita buang. Jadi kita tak pernah  membuang ke alam,” tegasnya.

Saat ini ia mengaku secara fisik pengerjaan kolam nomor 10 sudah selesai, sedangkan untuk kolam 11, progresnya baru 40 persen.

Ia juga menunjukkan berita acara (BA) verifikasi lapangan yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sanggau.

“Berdasarkan verifikasi lapangan dapat disimpulkan bahwa tidak ditemukan bukti dan indikasi kuat atas pencemaran lingkungan PT. TBS. Kalau memang ada pencemaran lingkungan, tunjukkan sama saya. Duluan saya masuk ke hotel prodeo. Karena pabrik ini tanggungjawab saya,” ujarnya.

Ia menduga ada pihak-pihak tertentu yang sengaja mengangkat isu ini tanpa melakukan kroscek lapangan.

“Pabrik kami ini macam cewek cantik, banyak orang dan banyak kepentingan yang ingin menguasai,” katanya.

Dengan masyarakat sekitar pabrik yang terkena dampak, pihak perusahaan telah membayar sanksi adat sebesar Rp8.070.000, dan diserahkan langsung kepada patih dan Kepala Dusun Hibun, disaksikan masyarakat.

Leo, sapaan akrabnya mengakui selama ini manajemen pabrik lebih fokus pada hal-hal bersifat teknis, lantaran pabrik yang menampung seribu ton buah sawit per hari itu baru berdiri pada Februari 2017. Karenanya ia berjanji akan lebih menjalin komunikasi dengan masyarakat sekitar.

“Sejak pergantian ke saya, saya mulai masuk ke arah sana, ke desa-desa sekitar TBS. Seperti desa Hibun misalnya, ternyata ketika kita datang, mereka wellcome, bahkan ngopi – ngopi dengan kami. Ada komunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat. Untuk desa hibun akan kita berikan CSR juga. Jangan hanya angkat isu negatifnya saja. Positifnya banyak sekali lho, tapi itu tak diangkat,” kesalnya.

Pihak pabrik juga akan membuat tugu perdamaian di jalan masuk pabrik. Tugu itu rencananya melambangkan tiga etnis; Dayak, Melayu dan Tionghoa. Pembuatan tugu tersebut sebagai simbol penghormatan pihak perusahaan kepada kearifan lokal. (indra)