Cagar Budaya di Kota Pontianak Harus Dilestarikan

oleh
Wakil Ketua DPRD Kota Pontianak, Herri Mustamin

PONTIANAK – Di hari jadi Kota Pontianak yang ke 246, Wakil Ketua DPRD Kota Pontianak, Herri Mustamin, mengajak masyarakat khususnya pemerintah kota setempat, untuk mengingat kembali sejarah (Jas merah) berdirinya kota pontianak, yakni dalam artian memberikan perhatian lebih kepada bangunan yang kini menjadi ‘Cagar Budaya’, meliputi bangunan Keraton Kadariyah dan Masjid Jami’, yang menjadi cikal bakal berdirinya Kota Pontianak, agar tetap berdiri kokoh dan megah seiring jaman.

“Kota Pontianak dibangun oleh seorang yang memiliki pemikiran yang revolusioner, sehingga yang perlu disyukuri adalah kita sebagai masyarakat harus tau sejarah kota pontianak itu sendiri, dan apa perhatian kita terhadap sejarah yang sudah terbangun di kota pontianak itu, tentunya harus ada perhatian lebih terhadap bangunan sejarah itu terutama keraton, masjid jami dan lingkungannya,” ujar Herri Mustamin di ruang kerjanya, Senin (23/10/17).

Menurutnya, di usianya yang ke 246, pemerintah kota meskipun sudah memberikan perhatian pembangunan kepada cagar budaya tersebut, namun masih dirasa kurang.

“Masih banyak hal yang kurang, kalau infrastruktur sudah oke,  namun pembangunan ekonomi kerakyatan yang  masih perlu menjadi perhatian. Sehingga pemimpin kedepan yang terpilih nanti, harus berangkat dari pemikiran pendahulu kita, bagaimana menjadikan Cagar budaya ini tetap eksis, kenapa dibangun di simpang seperti itu, termasuk menjaga kebudayaan dikawasan itu, yang saat ini mulai tergerus oleh jaman,” katanya.

Lanjut Herri, dalam pemerataan pembangunan yang sedang dikerjakan oleh Pemerintah Kota Pontianak saat ini, hendaknya juga diimbangi dengan pemerataan perbaikan perekonomian masyarakat khususnya di pontianak timur, utara, sebagian tepian sungai di pontianak barat, pontianak selatan dan tenggara, yang dinilainya masih memprihatinkan.

“Pembangunan sudah merata, cuma perekonomian masyarakat masih memprihatinkan. Sehingga di tahun 246 ini, harus benar-benar sebagai ajang intropeksi diri kita. Berbicara untuk pembangunan daerah tadi, cukup bagus sebab APBD kota cukup untuk itu, tapi perlu inovasi misalnya berkaitan dengan bangunan sejarah, keraton dan masjid jami yang sudah sangat memprihatinkan, terlebih lingkungan di masjid jami yang identik dengan beting, nah imej negatif dan ikon beting tentunya harus dibenahi bersama,” ajaknya.

Selain itu, tambah Politisi Senior Golkar Kota Pontianak ini, untuk memberikan support kepada pemerintah kota pontianak, pihaknya juga pada Pembahasan APBD 2018 nanti, akan menyoroti  terkait penataan tepian sungai kapuas, misalnya dari keraton ke daerah Tambelan Sampit sampai ke Kampung Banjar.

“Kenapa dibangun seperti itu itu kan kepalang tanggung, padahal konsep kita dulu tidak seperti itu, konsepnya adalah membangun waterfront city yang tuntas yang bisa dilalui oleh tidak hanya pejalan kaki, namun juga oleh kendaraan roda empat, bukan sekedar membangun yang mengarah pada kuantitas tapi kualitas juga, yang artinya ada dampak yang begitu luas dari pembangunan tersebut, yang dirasakan oleh masyarakat,” pungkasnya. (Budi)