Seven Brand Image Harus Dipahami ASN

oleh
Seven Brand Image Sanggau

SANGGAU – Pemerintah Kabupaten Sanggau terus berupaya melakukan perbaikan pelayanan publik kepada masyarakat. Agar masyarakat terlayani dengan tepat, cepat dan murah perlu diimbangi dengan inovasi – inonvasi.

“Jadi jangan menulis tiga hari kalau tidak ada jaminan. Contoh Kota Pontianak, mereka bagus. Setelah empat hari, mereka bisa dipotong administrasinya. Jadi kalau saya harus bayar Rp5 juta administrasinya, lewat satu hari, dua persen. Itu bagus, itulah inovasi namanya. Kalau di luar negeri, setelah janji tiga hari, tidak terjadi, dianggap izin itu sudah oke dari pemerintah. Inilah yang harus kita buat,” kata Bupati Sanggau, Poulus Hadi, belum lama ini.

Baik buruknya pelayanan yang diberikan ASN tergantung dari kesiapan personel di Organisasi Perangkat Daerah (PD) masing-masing.

“Contoh, ini tidak bayar atau gratis. Tapi ketika ditanya, terserahlah. Itu jangan, jangan lagi ada kalimat seperti itu,” tegasnya.

Sebenarnya, kata Bupati, Pemkab Sanggau sudah memulainya dengan membuat logo seven brand images yang kerap tertempel di seragam ASN Sanggau.

“Di situ (logo) tertulis bekerja dengan hati. Bekerja dengan hati itulah pelayanan publik, jadi saya minta pahami betul seven brand image dan bekerja dengan hati,” pesannya.

Namun yang tertuang dalam logo itu adalah apa yang disebutnya ‘inovasi besar’. Dari inovasi besar itulah diperlukan penjabaran oleh OPD masing-masing.

“Ini (logo) bukan hanya sembarang tempel. Inilah bentuk keseriusan kita mengurus Sanggau ini. Tapi tidak bisa hanya dengan kata-kata di sini. Harus diimplementasikan,” tegasnya.

Ia menyontohkan dengan Sanggau Tertib. Masih banyak anak-anak Sanggau yang belum memiliki Akta Kelahiran. Untuk itulah OPD dituntut membuat inovasi agar  persoalan ini dapat terselesaikan.

“Supaya tertib administrasi kependudukanya bagaimana. Inilah yang dituntut kepada OPD ini untuk membuat inovasi-inovasi itu,” katanya.

Begitu pula dengan Sanggau Sehat. Jamkesda yang diprogramkan Pemkab Sanggau diklaimnya merupakan jaminan kesehatan paling baik.

“Survei menunjukkan itu. jadi orang miskin atau orang setengah kaya kah, kalau pakai Jamkesda dia bisa berobat. Sekarang kita integrasikan ke BPJS. Itu inovasi kita,” bebernya.

Sayangnya, sebut PH, inovasi-inovasi itu tak terbungkus dalam suatu dokumentasi yang baik. Dikatakannya, jika semua OPD berinovasi dan pelayanan publik meningkat, pada akhirnya Sanggau akan menjadi smart city.

“Kalau ngomong smart city di dalam OPD jak belum ada pelayanan maksimal, tidak mungkin,” ujar dia lagi.

Baginya menang dalam kompetisi pelayanan publik, tak begitu penting. Terpenting secara riil, masyarakat Kabupaten Sanggau dapat menikmati pelayanan publik dengan benar. Dan itu ada di OPD.

”Tapi bagaimana mau pelayanan publik yang benar, kalau sedikit-sedikit mulai sesuatu ngomong yang besar, yang kecil kita tak diurus,” pungkasnya. (indra)