Disparitas Harga Elpiji dan Mindset Masyarakat di Pontianak Penyebab Kelangkaan Elpiji 3 Kg

oleh
Hendra Salam, Ketua Hiswana Migas Kalbar. Foto : Dody

PONTIANAK  – Perbedaan harga terlalu jauh antara Elpiji bersubsidi yakni tabung berukuran 3 Kg dengan non subsidi, tabung berukuran 5,5 Kg yang ditetapkan oleh pemerintah adalah faktor pertama penyebab terjadinya kelangkaan gas LPG (Liquified Petroleum Gas) di Kota Pontianak, Demikian hal itu diungkapkan Hendra Salam, Ketua Hiswana Migas Kalimantan Barat kepada B-ONETV, Rabu kemarin (18/10/17).

Menurutnya, jika membeli di pangkalan harga tabung Elpiji 5,5 Kg adalah Rp 66.000, sedangkan harga tabung Elpiji 3 Kg Rp 16.500.

“Apabila dibandingkan Elpiji 5,5 Kg dengan harga Rp 66.000 pertabungnya, berarti harga perkilogramnya Rp 12.000, sedang Elpiji 3 Kg dengan harga Rp 16.500, harga perkilogramnya Rp 5.500, jadi selisih harganya berbeda jauh yakni Rp 6.500,” ujarnya.

Disparitas harga Elpiji itu yang kemudian dimanfaatkan oleh para spekulan untuk memborong tabung Elpiji 3 Kg dan menjualnya ke  masyarakat yang dinilai mampu seperti pengusaha restoran, hotel dan lainnya.

“Kebutuhan Elpiji masyarakat di Kota Pontianak 22 ribu tabung perharinya, dan jumlah penduduknya 600 ribu jiwa, jika ada 10 persen penduduk tidak mampu, berarti  60 ribu jiwa, dengan asumsi 4 orang setiap Kepala Keluarganya (KK) maka ada 15 ribu KK yang menggunakan tabung Elpiji 3 Kg,” ujar Hendra.

Masyarakat tidak mampu cenderung menggunakan Elpiji 3 Kg selama satu minggu dan tidak akan mungkin habis dalam waktu sehari saja, terkecuali untuk Usaha Kecil Menengah (UKM).

“Berarti stok Elpiji 3 Kg di Kota Pontianak yang disiapkan oleh pertamina itu berlebihan, gak ada kekurangannya,” ujar Hendra.

Baca : KPU Sanggau Tagih Janji PLN Atasi ‘Byar Pet’

Faktor kedua, persoalan mindset yakni kesadaran atau pola pikir masyarakat di Indonesia yang selalu menganggap dirinya tidak mampu, padahal Indonesia bukan termasuk negara yang miskin di Asia Tenggara, karena sejajar dengan negara Malaysia dan Thailand.

“Contohnya, banyak masyarakat yang mampu di Indonesia masih menggunakan Elpiji 3 Kg, restoran dan hotel saja masih menggunakan Elpiji 3 Kg,” ujarnya.

Dalam hal ini Hendra pun berharap agar pemerintah mengkaji kembali penetapan harga Elpiji yang dinilai dapat memberikan peluang bagi para spekulan untuk meraup keuntungan.

“Tidak hanya itu saja, pemerintah pun mesti mengimbau agar PNS, BUMN dan BUMD serta para pengusaha agar tidak menggunakan Elpiji 3 Kg,’’ tutupnya. (Dody)