Kepala SMPN 01 Sebut Wiwin Guru yang “Gila”

oleh
Kepsek SMPN 01 Berfoto Bersama Peneliti Cilik Didampingi Guru Pembimbingnya

SANGGAU – Keberhasilan dua pelajar SMPN 01 Sanggau, Kalimantan Barat menyabet predikat Peneliti Cilik Terunggul tingkat nasional dalam ajang Kalbe Junior Scientist Award 2017 di Jakarta, tak lepas dari tangan dingin Wiwin Asriningrum. Dari kemampuannya itu, dua siswa terbaik asal Sanggau itu mampu mengukir prestasi di kancah nasional.

Keberhasilan Wiwin mendapat pujian tersendiri dari Kepala SMPN 01 Sanggau, Margareta Lowe. Ia bahkan menyebut Wiwin guru yang gila. Tapi bukan gila dalam konteks sebenarnya, melainkan gila kreatifitas. Atas kegilaan Wiwin, Ia mengaku sangat bersyukur karena memiliki sosok Wiwin di sekolah yang dipimpinnya.

“Kebetulan gurunya juga “gila”, gila meneliti. Kadang-kadang judul apa lagi, misalnya daun-daun ini dibuat apa lagi. Kita sudah planing akan ada penelitian apa, kita sudah ada. Jadi penelitian dia itu tidak dadakan,” katanya.

Lowe mengaku hampir tiap tahun sekolahnya meraih prestasi.

“Tahun lalu di Jakarta juga. Dengan even dan orang yang berbeda. Jadi browsing dulu di internet, jadi kita cari dulu masalahnya apa, dan apa yang mau diangkat, baru kita cari anaknya yang akan bertanding. Kita latih mereka, terutama untuk presentasi. Karena mereka akan berhadapan dengan juri, dan guru pendamping tidak ikut,” terangnya.

Ia berharap, setiap tahun paling tidak bisa mewakili Sanggau. Margareta sangat bangga, ternyata kali ini, bukan hanya mewakili Sanggau, tapi juga mewakili Kalimantan.

“Ini prestasinya luar biasa, di akademik juga (kedua penelitik cilik) ini luar biasa, saya banggalah dengan anak-anak ini,” aku dia.

Hanya saja ia mengaku, persoalan klasik soal keterbatasan dana kerap menjadi kendala. “Kadang-kadang keterbatasan juga, uang BOS itu terbatas. Kalau sudah dibiayai negara kami tidak boleh lagi gunakan BOS, akhirnya pas-pasan, dengan uang seadanya kami mencoba,,” bebernya.

Persoalan dana yang pas-pasan ini juga sempat menjadi kendala ketika mengikuti even di tingkat nasional. Hal itu diakui sendiri oleh Wiwin.

Baca : Dua Siswa SMP di Sanggau Sandang Predikat Peneliti Cilik Terunggul Nasional, Ini Prestasinya..

“Kami membuat batako dari abu boiler, tidak tembus ke final karena tidak ada uji lab. Kami sudah bawa ke lab Untan, karena satu sample biayannya Rp800 ribu. Tapi karena kami membawa surat dari sekolah, jadi biayanya tak sampai segitu. Ada dukungan juga dari Untan. Kita kalah di Nasional karena tidak ada uji labnya. Tapi sekarang, kalau mau uji lab dari sekolah untuk penelitian, sudah ada diskon dari Untan,” pungkas Wiwin.

Wiwin mengaku di ada semacam rumah penelitian yang menjadi wadah bagi para siswa dan guru untuk melakukan penelitian.

“Kita sudah ajak ke teman-teman ayo, kalau tak tahu bertanya,” tuturnya. (indra)