Menilik Geliat Komunitas Hidroponik di Kota Pontianak

oleh
Kepala UPTD Agribisnis Terpadu Dinas Pertanian Provinsi Kalbar, Herti Herawati saat monitoring petani Hidroponik Alwi Farm

PONTIANAK – Hidroponik adalah budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman. Kebutuhan air pada hidroponik lebih sedikit daripada kebutuhan air pada budidaya dengan tanah. Hidroponik menggunakan air yang lebih efisien, jadi cocok diterapkan pada daerah yang memiliki pasokan air yang terbatas.

Di kota Pontianak berdasarkan data dari Dinas Pertanian. Setidaknya ada 50 Komunitas yang sudah menggeluti budi daya hidroponik.

Dengan masa tanam yang tidak butuh waktu lama serta bebas zat kimia, Sayur Hidroponik menjadi primadona baik dari Petani itu sendiri hingga masyarakat yang gemar mengonsumsinya.

Kepala UPTD Terminal Agribisnis Terpadu Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Barat Herti Herawati menjelaskan jika petani Hidroponik di Kalbar khususnya kota Pontianak mulai menggeliat. Pangsa pasar yang menjanjikan membuat pemasaran sayur hidroponik semakin gampang, dan para petani Hidroponik mulai merasakan hasilnya.

Herti mengatakan Dinas Pertanian selaku perwakilan Pemerintah terus berupaya mendukung apa yang telah dilakukan oleh petani. Bantuan tersebut mulai dari pembimbingan cara tanam hingga pemberian bantuan bibit dan alat yang diperlukan oleh petani dalam menanam sayur hidroponik.

“Keuntungan tanam Hidroponik, di lahan yang kecil bisa menghasilkan income untuk skala rumah tangga. Ini bisa dikerjakan ibu rumah tangga dalam mengisi waktu, tidak perlu tenaga yang banyak. Cuma memang perlu invest yang banyak. Kita akan beri bantuan Green House untuk petani,” ungkap Herti ditemui B-ONETV saat memonitor Komunitas Hidroponik Alwi Farm di Jalan Tabrani Ahmad, Pontianak, Selasa (17/10/17) pagi.

Sementara itu, Cecep Risnawan, pemilik Alwi Farm menuturkan sudah menggeluti budidaya tanaman sayur Hidroponik sejak lama. Ia mengaku sudah merasakan hasil dari profesinya sebagai petani Hidroponik.

Cecep mengaku tidaklah terlalu kesulitan dalam bercocok tanam hidroponik. Segala tahapan mulai dari menyemai hingga memanen jika dijalani dengan baik dan benar maka sayur yang dihasilkan akan sesuai harapan dan memiliki kualitas yang bernilai jual cukup tinggi.

“Proses panen tergantung jenis sayur, ada yang 38 sampai 35 hari, bahkan ada 40 sampai 45 hari. Dari semai hingga panen,” ujar Cecep.

Untuk memasarkannya pun Cecep merasa tidaklah terlalu sulit, bahkan ia kesulitan memenuhi permintaan pasar yang cukup banyak. Di Kebun Hidroponik milik Cecep ada sejumlah varitas sayur unggulan Hidorponik, seperti Sawi Keriting, Pak Coy, Sawi Kailan.

“Untuk harga perkilonya, ┬ábervariasi berkisar dari Rp25 ribu hingga Rp50 ribu, tergantung jenis sayurnya,” ungkap Cecep.

Sementara itu, untuk kendala yang dihadapi, kata Cecep adalah hama yang menyerang tanaman sayur Hidroponik seperti hama kutu. Untuk membasminya, Cecep sempat membuat pestisida organik yang terbuat dari bahan-bahan alami. Kini untuk membasmi hama kutu, Cecep membelinya dari pulau Jawa dengan harga yang cukup mahal.

“Dulu bikin sendiri, dari bawang putih dari daun nangka belanda. Cuma itu kalau kita sibuk repot membuatnya. Enaknya kita beli yang sudah jadi,” kata Cecep.

Kini Pemerintah melalui Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Barat terus berupaya menggenjot keberadaan komunitas petani tanaman Hidroponik. Berbagai jenis bantuan pun terus digelontorkan dinas terkait dalam memberikan kemudahan para petani hidroponik tersebut. (Tim)