PWI Gandeng Dewan Pers dalam Safari Jurnalistik di Pontianak

oleh
pelatihan safari jurnalistik Dewan Pers dan PWI untuk meningkatkan kompetensi wartawan.

PONTIANAK – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menggandeng Dewan Pers menggelar Safari Jurnalistik 2017, Senin (16/10/17), Di salah satu hotel berbintang di Kota Pontianak.

Kegiatan ini sendiri diikuti oleh puluhan wartawan dari berbagai media, baik cetak, elektronik maupun media online.

“Program safari jurnalistik ini adalah untuk meningkatkan kompetensi, pemahaman, dan kesadaran bagi wartawan itu sendiri,” Kata Perwakilan Dewan Pers, Hendry Chairuddin Bangun, di Pontianak.

Menurutnya, salah satu keinginan dewan pers adalah meningkatkan kualitas wartawan yang ada di Indonesia, khususnya yang masuk dalam organisasi yang diwadahi/dinaungi Dewan Pers.

“Wartawan harus kenal dan paham kode etik jurnalistik, dan mendapatkan wawasan dalam meningkatkan produk wartawan itu sendiri, misalnya ikut uji kompetensi,sehingga ada kaidah dan etika ketika wartawan menjalankan profesinya,” katanya.

Sedangkan, saat ini dewan pers, lanjut Hendry, sedang berupaya melakukan verifikasi perusahaan media di Indonesia, termasuk di Kalimantan Barat, untuk membantu masyarakat untuk mendapatkan berita yang sesuai standar yang telah ditetapkan, yang berakhir desember 2018.

Sementara itu, Ketua PWI Pusat yang diwakili Ketua Bidang Pendidikan, Marah Sakti Siregar, menerangkan, jika pihaknya sangat mengapresiasi dipilihnya kota pontianak sebagai lokasi kegiatan safari ini.

Dirinya mengajak para wartawan yang ikut dalam kegiatan yang merupakan kegiatan rutin tahunan ini, untuk berbagi pemahaman tentang pers dan informasi yang berkembang secara nasional.

“9 dari 10 media, tidak meningkatkan kualitas SDM insan persnya, apalagi perkembangan teknologi informasi sangat pesat, tidak lagi di dominasi oleh wartawan,” Ujarnya.

Lanjut Marah Sakti, saat ini fenomena meningkatnya alat komunikasi yang lebih besar dari jumlah penduduk, membuat masyarakat bingung.

“Banjirnya informasi, buat bingung masyarakat mana yang benar mana berita bohong (hoax), sehingga salah satu pilihannya adalah memilih menyimak,mendengar atau membaca dari media mainstream yang dilindungi dan dibimbing oleh dewan pers,” tutupnya. (Budi)