Warga Pertanyakan Ribuan Kayu Keluar Dari Sekadau

oleh
Ilustrasi - Kayu

SEKADAU – Hutan Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, masih mengalami kekurangan sekitar 16 persen dari luas wilayah. Karena luas wilayah harus diimbangi dengan luasnya hutan sebagai daerah resapan.

“Dulu kecamatan Nanga Mahap ditetapkan sebagai daerah resapan. Kini Nanga Mahap yang konon katanya sebagai resapan sering mengalami banjir. Hal ini di karenakan sudah gundulnya hutan,akibat penebangan hutan secara merajalela. Bagaimana tidak, disamping pembukaan lahan perkebunan penebangan kayu juga meraja lela, penebangan hutan tentu memiliki andil kuat terhadap terjadi bencana banjir yang terjadi akhir-akhir ini,” ungkap Dinus, warga Sekadau kepada awak media Kamis (12/10/17).

Menurut Dinus, Sebaiknya penebangan kayu segera dihentikan. Kebutuhan tersebut perlu dihitung secara istimasi.

“Kalau memang istimasi kebutuhan pembangunan milik pemerintah maupun warga sudah bisa diatasi kenapa harus tebang hutan terus. Bukankah yang menikmati hasil adalah cukong-cukong saja? atau oknum tertentu. Sehingga masyarakat tetap saja menjadi korban apabila terjadi bencana. Hal ini perlu menjadi pikiran kita bersama terutama forkompimda Kabupaten Sekadau,” tuturnya.

Dengan berbagai dalih dan upaya, lanjut Dinus, para cukong-cukong tersebut berlindung agar aktifitas tersebut tetap berjalan karena mereka diambil hanyalah untungnya saja.

“Sebagai warga, kami patut curiga ketika setiap hari ratusan batang kayu dibawa keluar dari Mahap saat malam hari,” ungkapnya.

Sementara Kapolsek Nanga Mahap IPDA I Nengah Mulyawan saat dikonfirmasi melalui pesan singkat mengatakan, masalah itu sebaiknya ditanya saja dengan Kapolres atau Bupati Sekadau, terkait kebijakan mereka.

“Kalau saya, kapanpun ada perintah untuk menghentikan, saya siap laksanakan,” ucapnya singkat. (Yahya)