Warga Perbatasan Ikuti Jalan Sehat HUT PMI di Sekayam

oleh
Wakil Bupati melepas jalan Sehat memeriahkan HUT PMI ke-72 di perbatasan RI

SANGGAU – Ribuan warga perbatasan di Kecamatan Sekayam, Entikong dan sekitarnya mengikuti jalan sehat dalam rangka memeriahkan HUT PMI ke-72 yang dipusatkan di halaman kantor Camat Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Kamis (12/10/17). Jalan sehat itu dilepas langsung Wakil Bupati Sanggau, Yohanes Ontot.

Para peserta Jalan sehat terdiri dari kalangan pelajar hingga masyarakat umum. Sementara Start jalan sehat dimulai dari halaman kantor Camat Sekayam kemudian mengelilingi pasar Sekayam dan balik lagi ke halaman kantor Camat Sekayam.

Usai jalan sehat, acara dilanjutkan dengan pembagian dorprize yang disediakan panitia. Selain Wabup, acara ini juga dihadiri Ketua PMI Sanggau, Yohana Kusbariah, Sekretaris PMI, Urbanus dan penggurus PMI Sanggau lainya. Selain itu juga dihadiri jajaran OPD Sanggau, Perwakilan Forkompinda Sanggau, Camat Sekayam Mangaranap Siahaan, jajaran Polsek dan Danramil Sekayam dan tamu undangan lainya.

Sekretaris PMI Kabupaten Sanggau, Urbanus mengatakan, dipilihnya Kecamatan Sekayam untuk pelaksanaan HUT PMI, karena di lima kecamatan, yakni Entikong, Sekayam, Beduai, Kembayan dan Tayan Hilir, antusias masyarakat untuk donor darah secara suka rela sangat banyak.

“Kalau bisa kecamatan lain yang ada di Sanggau harus seperti ini. Mengingat kebutuhan darah di PMI Sanggau mencapai 300 kantong darah dalam sebulan dan bahkan terkadang tidak cukup. Artinya Dalam setahun 3300 kantong darah dalam setahun, ” ungkapnya.

Dikatakanya, keperluan darah bagi masyarakat sangat banyak. Untuk itu, ia berharap kepada pengurus PMI di lima kecamatan yang dilantik, agar mensosialisasikan donor darah sukarela kepada masyarakat.

“Karena dapat membantu sesama kita yang membutuhkan darah, karena setetes darah anda bisa menyelamatkan nyawa manusia. Sesuai dengan tema yang diangkat, membangun masyarakat tangguh dan manusiawi, ” tuturnya.

Menurutnya, untuk biaya pengganti satu kantong darah, sesuai dengan peraturan pemerintah dan SK Gubernur Kalbar, Rp360 ribu per kantong. Untuk itu, pihaknya selalu mengantisipasi apabila ada yang melebihi dari harga yang ditentukan.

“Kami mewanti-wanti, kalau ada yang melebihi berarti namanya pungli. Kami dengan ibu ketua PMI Yohana sangat konsen terhadap hal itu. Tidak ada pungutan diluar Rp 360 ribu itu,” ujarnya.

“Sebenarnya apabila menggunakan BPJS, Jamkesda, KIS, tinggal menyiapkan administrasi untuk kelengkapan yang dibutuhkan. Dengan lengkap administrasi, tinggal ambil kantong darah di PMI, Jadi kita di PMI yang mengklaimnya. apakah ke BPJS, Jamkesda maupun KIS, jadi dipermudah, bukan pasien yang membayar, ” tambahnya.

Untuk itu, Mantan Anggota DPRD Sanggau itu mengimbau, agar pihak rumah sakit swasta dan kilinik, diminta menyiapkan kelengkapan admnisitrasi sesuai aturan, jadi PMI tinggal memproses dan mengklaimnya.

“Itu terkadang menjadi kelemahan memang dari keluarga pasien, misalnya satu saja persyaratan Jamkesda yang kurang, sangat terkendala kita. Kita di PMI tidak ada mempersulit, asal lengkap kita berikan kantong darah, ” pungkasnya.

Sementara Wakil Bupati Sanggau, Yohanes Ontot mengatakan, tujuan dilaksanakannya jalan sehat ini untuk menciptakan warga negara menjadi lebih sehat, kuat jiwa dan raganya.

“Dalam jiwa dan raga yang sehat maka lebih produktif, itulah tujuan Indonesia agar tetap sehat ntuk lanjutkan pembangunan bangsa ini kedepan. Dengan adanya kegiatan ini, masyarakat dapat berinteraksi satu sama lain,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Ontot mengingatkan ancaman narkoba, karena apabila terjerat narkoba maka membuat orang tidak sehat, tidak produktif.

“Kita inginkan bangsa yang kuat, kita sepakat harus tolak narkoba, ” tegasnya.

Ontot juga berharap agar masyarakat lebih giat lagi untuk donor darah, terutama bagi yang sudah cukup umur dan sudah bisa mendonorkan darahnya.

“Silahkan donor darah, setetes darah anda bisa menyelamatkan nyawa manusia, ” jelasnya.

Ontot juga meminta agar PMI berkerja secara profesional, karena darah ini tidak gampang merawatnya dan harus oleh orang profesional, baik tenaga yang melakukan donor harus profesional dan dilatih.

“Kita harap agar PMI menjadi pusat untuk menyetok darah karena, nanti antara PMI, BPJS dan Rumah Sakit akan jadi satu jaringan kerja yang baik sehingga masyarakat yang sakit dan membutuhkan darah, tinggal diarahaan ke PMI. Jadi tidak ada lagi mikir becari-cari darah lagi, PMI ini dipersiapkan dengan baik agar misi kemanusiaanya bisa berjalan maksimal. Bayangkan gara-gara tidak mendapatkan darah bisa hilang nyawanya, ” tuturnya. (indra)