Perlu Gerakan Nyata Tularkan Nilai Pancasila

oleh
Monumen kesaktian pancasila

PONTIANAK – Tanggal 1 oktober, diperingati sebagai hari “Kesaktian Pancasila”. Sebagai ideologi negara, pancasila dinilai sangat efektif untuk diterapkan dan diamalkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun demikian, di masa sekarang, pancasila belum sepenuhnya diimplementasikan, sehingga perlu ada gerakan masif untuk menerapkannya.

“Perlu diadakan gerakan besar dan nyata untuk menularkan nilai-nilai Pancasila,” ungkap Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Fisip Universitas Tanjungpura Pontianak, DR. Ngusmanto, Minggu (01/10/17).

Menurutnya, saat ini di sebagian kalangan, bahkan pada level pejabat pemerintah sekalipun, dalam mengungkap nilai Pancasila seolah hal yang tabu.

“Yang akhirnya, nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila sulit untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, apalagi pada kebijakan skala besar yang dibuat pemerintah,” ujarnya.

Akademisi Universitas Tanjungpura Pontianak ini mengungkapkan, kandungan luhur dalam Pancasila mulai dari Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah mengatur kehidupan Bangsa Indonesia agar berketuhanan atau memiliki keyakinan, dengan tidak mengganggu keyakinan atau agama lain.

“Sedangkan pada sila kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, adalah tentang bagaimana manusia itu diperlakukan, tidak ditindas, apalagi dicabut hak-hak kemanusiannya, kemudian sila Ketiga Persatuan Indonesia, memiliki makna antara lain, pentingnya menjaga kebersamaan, karena untuk mencapai bangsa Indonesia yang merdeka dibutuhkan waktu dan pengorbanan.

Lanjutnya, untuk sila ke empat, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Khidmat, dalam Permusyawaratan dan Perwakilan, memiliki makna jika keputusan apapun yang harus diambil, sebaiknya dilakukan dengan cara musyawarah mufakat, bukan melalui suara terbanyak.

“Dan yang terakhir, sila ke lima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, adalah tentang bagaimana upaya pemerintah mewujudkan kehidupan masyarakat yang berkeadilan di berbagai sektor,” pungkasnya. (Budi)