Ason Ragukan IPM Sanggau Terbaik

oleh
Ilustrasi - IPM

SANGGAU –  Wakil Ketua DPRD Sanggau, Fransiskus Ason meragukan klaim IPM yang disampaikan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Sanggau, Kukuh Triyatmaka belum lama ini yang menyampaikan bahwa IPM Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat terbaik.

“Klaim seperti itu sah-sah saja, yang jadi pertanyaan datanya valid tidak?, kalau kita melihat realnya rasa-rasanya saya pesimis,” kata Ason.

Menurut Ason, indikator tinggi rendahnya IPM tergantung dari tiga komponen, yaitu angka harapan hidup saat lahir, angka harapan lama sekolah, rata-rata lama sekolah dan pendapatan perkapita disesuaikan dengan pertumbuhan ekonomi yang disesuaikan dengan ketersediaan infrastruktur.

Berdasarkan data resmi yang diperolehnya, jelas Ason, memang IPM Kabupaten Sanggau mengalami kenaikan, tetapi tidak signifikan, bahkan terkesan terjadi perlambatan. Angka harapan hidup saat lahir 2010 tercatat 70,21, 2011 tercatat 70,23, 2012 tercatat 70,25, 2013 tercatat 70,27, 2014 tercatat 70,28 dan 2015 tercatat 70,58.

“Kalau kita melihat data ini, kenaikannya sangat kecil, rata-rata nol koma sekian persen, kecil sekali bahkan terjadi perlambatan, itu baru satu indikator, kita belum bicara indikator lain,” kata Ason.

Yang paling miris, kata Ason, informasi terakhir angka gizi buruk di Sanggau sudah sangat memprihatinkan.

“Terakhir saya dapat info dari Januari hingga Agustus 2017 ada 8 kasus gizi buruk, ini juga indikator sebenarnya terkait ketersediaan pangan bagi masyarakat, belum lagi kita bicara infrastruktur di desa-desa yang jauh dari harapan, belum lagi kita bicara angka buta huruf di Sanggau termasuk angka harapan lamanya sekolah,” tegas Ason.

Ason berharap BAPPEDA jangan bermain data di atas meja, tapi turun ke lapangan.

“Kalau main data di meja, bagaimana mereka tahu orang di kampung sana susahnya setengah mati mau ke kota karena akses jalan yang tidak memadai, dan bagaimana susahnya orang kampung yang mau berobat karena petugasnya terbatas, fasilitasnya minim, itukan fakta yang tidak bisa ditutup-tutupi,” ujar Ason.

Ason juga merasa heran dan mempertanyakan klaim IPM Kabupaten Sanggau terbaik se Kalbar.

“Serapan anggaran kita di tahun 2015 sangat rendah, itukan dampaknya terhadap kesejahreraan masyarakat yang tidak terpenuhi, dan data IPM yang saya terima tahun lalu kita peringkat ke-12 se Kalbar, kok bisa tiba-tiba kita mengalahkan kota pontianak yang infrastrukturnya lebih memadai dari kita, rasanya aneh sajalah klaim seperti itu,” pungkasnya. (indra)