Warga Sanggau Diminta Tidak Buang Sampah di Sungai

oleh
Ilustrasi - Tempat sampah

SANGGAU –  Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kabupaten Sanggau, Ir. Basitha Ginting mengajak masyarakat Sanggau, Kalimantan Barat, khususnya yang tinggal di bantaran sungai, untuk tidak membuang sampah di sungai, karena pihaknya banyak menemukan adanya sampah yang sengaja dibuang di sungai, seperti di Liku dan Sungai Bunut, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau.

“Di sungai Liku dan sungai Bunut banyak sekali kita menemukan sampah. Walaupun tiga hari sekali kita bersihkan sungai, kita harap agar warga tidak membuang sampah disungai, tapi dibuang di tempatnya,” katanya kepada wartawan, Senin (25/09/17).

Ia berharap, warga dapat membuang sampah di tempat pembuangan sampah (TPS), karena setiap 10 sampai 20 meter sudah disediakan TPS, baik yang warna orange maupun yang warna hijau.

“Kita bertanggungjawab untuk membuang sampah kalau sudah ada di TPS. Dimanapun apabila ada masyarakat melihat TPS yang tidak diangkut, tinggal beritahu dengan kami pastikan akan segera diangkut. Karena keputusan kita, tidak boleh TPS diatas satu hari, karena kalau dibiarkan lebih dari satu hari akan menyebabkan bau,” jelasnya.

Sekarang, lanjutnya, tidak ada komplain dari masyarakat terkait keberadaan TPS yang berada persis di depan rumah mereka.

“Itu karena setiap hari kita angkut, jadi tidak menimbulkan bau,” katanya.

Ia menjelaskan, saat ini Volume sampah perhari untuk kota Sanggau rata-rata 20 ton.

“Kita lihat dari 8 buah dum truk yang digunakan untuk angkut sampah ditambah ambrol (container yang angkut sampah),” tuturnya.

Ginting menuturkan, untuk pemisahan jenis sampah, saat ini, pihaknya sudah membuat bank sampah percontohan yang dikelola Pokdarwis yang berlokasi di depan kantor Lurah Tanjung Sekayam.

“Jumat lalu tempatnya baru selesai, SK nya sudah ada. Jadi mereka disana akan memilah, yang mana sampah kering, baik itu plastik dan kertas. Disana mereka akan membeli sampah kertas dan sampah plastik,” jelasnya.

“Kalau sampah organik, kita harap agar masyarakat bisa menjadikanya pupuk organik,” tambahnya.

Ia menjelaskan, di bank sampah tersebut, proses pembayaranya sebulan sekali.

“Harapan kita, dari sampah itu, kaum ibu bisa membantu keluarganya, minimal untuk membayar uang sekolah atau membayar listrik,” harapnya.

Saat ini, dirinya membuat nomor di setiap mobil dumtruk yang mengangkut sampah, muali dari nomor satu sampai nomor delapan.

“Jadi kami tahu, mobil nomor satu angkat berapa TPS. Dimobil ada kartunya juga, berapa kilometer jalanya dari pergi sampai pulangnya, isi minyaknya juga seminggu sekali,” imbuhnya.

Ia menuturkan, mobil yang mengangkut sampah mulai beroperasi mulai pukul 05.00 Wib dan paling lambat pukul 06.00 Wib. (indra)