Pabrik Kelapa Sawit di Sekadau Harus Perhatikan Limbah

oleh
Lokasi serta tempat penampungan limbah

SEKADAU – Setelah menimpa warga Desa Seraras, kini giliran warga Desa Gonis Tekam yang memprotes pabrik kelapa sawit, yang limbahnya menjadi penyebab rusaknya ekosistem di sekitar pabrik.

“Kenapa kejadian di Sekadau, pemerintah terlihat adem ayam tanpa bereaksi sedikitpun. Apakah karena tidak tahu atau memang sengaja tidak tahu,” ungkap Dian, salah seorang warga pemerhati lingkungan kepada sejumlah wartawan, Sabtu (23/09/17).

Menurutnya, pemberian ijin pabrik yang berbahaya seperti pabrik kelapa sawit memang perlu ekstra hati-hati, ketika menerbitkan ijin. Apalagi yang bertanda tangan terhadap dokumen ijin Analisa Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah Bupati.

“Lalu bagaimana dengan kajian-kajian ijin lokasi serta kajian teknis lainnya. Artinya, ada yang kurang teliti dalam setiap kajian teknis soal lokasi serta tempat penampungan limbah yang biasa disebut kolam limbah. Padahal sesuai aturan, untuk kapasitas Pabrik dengan standar olahan 45 ton perjam, tentu kolam limbah hendaknya disesuaikan dengan keluarnya limbah. Artinya kolamnya harus 8 atau 9 kolam dan kolam terakhir harus ada ikan yang bisa hidup.  Dengan begitu, kolam sudah steril dari limbah yang berbahaya,” kata Dian.

Menurut Dian, warga yang tingal di sekitar pabrik merasa was-was. Pasalnya setiap detik bisa saja kolam merembes. Itu artinya keselamatan hewan peliharaan serta warga teramcam.

“Untuk itu, saya meminta agar pihak-pihak terkait mesti melakukan cek ke lapangan guna melihat langsung, serta menberikan surat teguran secara tegas kepada pihak menejemen perusahaan. Agar hal serupa kedepan tidak terjadi lagi,” pintanya.

Terpisah, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sekadau, Hendi, SE meminta pihak terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup serta instansi terkait lainya, untuk segera mengecek ke lapangan, agar bisa melihat langsung kondisi lapangan dan bisa mencari solusi serta memberi saran pendapat kepada pihak perusahaan.

“Bupati juga harus menberi teguran kepada perusahaan supaya hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi. Karena hal ini sudah dua kali terjadi, dan jangan dibiarkan terjadi kebocoran limbah yang sama. Di pabrik yang sama pula, inikan sudah keteledoran namanya,” kata Hendi.

Hasil pantauan awak media di lapangan, kolam limbah yang ada baru 5 kolam, sedangkan standar yang harus dimiliki pabrik harusnya sebanyak 8 atau 9 kolam penampungan limbah. Itu aturan yang ada di dokumen Amdal. (Yahya)